DALAM kegiatan pembelajar tiga komponen utama, guru, bahan pembelajaran, dan siswa saling berkaitan dalam mencapai tujuan pendidikan. Hilang atau timpangnya satu ‘tiga tungku’ tersebut akan berakibat gagalnya pencapaian tujuan. Dengan kata lain, ketiganya harus saling bersinergi dalam mencapai tujuan.

Sepanjang sejarahnya, pergeseran empasis dalam nemandang ketiga komponen tersebut bisa saja terjadi. Sebagaimana dikatakan Lapp (1975: 3): “some times ‘content’ will dominate, some times either ‘teacher’ or ‘student’ will dominate”. Perubahan empasis terjadi berdasarkan pandangan dan tujuan yang dicapai.

Apa pun aanlisisnya, untuk mencapai tujuan pembelajarn, peran guru sangat penting. Karena itu perlu dikaji profil guru itu sendiri serta perannya. Menurut T. Raka Joni (1983), dalam sejarahnya, setidaknya ada tiga pandangan mendasar terhadap guru, yaitu:

Pertama, guru dipandang sebagai orang mempelajari ilmu pengetahuan dan keterampilan tertentu. Guru adalah semua orang yang mempelajari sesuatu dan dapat kembali mengajarkannya, tanpa harus menjalani pendidikan guru. Artinya, siapa saja yang menguasai ilmu tertentu dan mengajarkannya adalah guru.

Kedua, guru dipandang sebagai orang yang menguasai bahan yang akan diajarkannya tanpa memperhatikan kemampuan menyampaikan secara baik. Jadi tekanannya pada penguasaan bahan yang akan diajarkan, dan sama dengan tahap pertama, guru juga tidak harus menguasai tentang bagaimana mengajarkannya atau menyampaikan secara baik.

Ketiga, selain dituntut menguasai bahan, guru juga dituntut menguasai prinsip-prinsip dan teknologi pendidikan agar dapat menunaikan tugasnya sebagai pendidik. Dengan kata lain, guru harus menguasai ilmu atau bahan pengajaran dan bagaimana mengaj arkan atau menyampaikannya agar tujuan pendidikan tercapai.

Perubahan pandangan tentang guru dan peranan guru itu sendiri berdasarkan keadaan obyektif perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat dimana guru tidak dapat lagi mengandalkan apa yang dipelajarinya saja.

Kalau pada awalnya guru dipandang sebagai sumber yang serba tahu hingga orientasi PBM “teacher centered”, sekarang ini hal tersebut tidak mungkin lagi. Guru sudah tidak mungkin mengumpul semuanya. Artinya, guru membaginya dengan siswa. Pandangan “student centered” adalah orientasinya. Guru dituntut untuk membelajarkan siswa guna mencapai perkembangan optimal (Parawansa, 1988& 15).

Asumsi dasarnya siswa bersekolah membawa atau telah mempunyai potensi cipta, rasa dan karsa atau menurut Bloom (1956) potensi kognitif, afektif dan psikomotorik hingga guru bertugas membantu mengembangkan potensi-potensi bawaan siswa tersebut. Potensi siswa tersebut yang harus dibantu pengembangannya oleh guru hingga siswa merupakan “centre of activity” .

Pandangan ini lebih maju, baik dalam menempatkan siswa dalam konteks PBM maupun dalam melihat peranan guru dimana guru bukan sekedar pelaku “transfer of knowledge” peran guru bukan berarti makin “menyempit” melainkan tetap penting sebab gurulah yang ‘mengatur’ lingkungan hingga terjadi proses belajar (Nasution, 1982: 8). Peranan guru tetap saja penting (Sutisna, 1983: 109).

Dalam kerangka demikian, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar dalam artian alih pengetahuan-pengetahuan (Hasan, 1988: 9) tetapi sebagai motivator, fasilitator, pembimbing, evaluator, pengembang materi pelajaran, pengelola PBM, dan agen pembaharuan (Darmodiharjo, 1983, Shabuddin, 1985, Parawansa dan Abdullah, 1988: 16-22).

Sebagai motivator guru membangkitkan semangat dan kesadaran siswa agar belajar tidak cukup di kelas saja. Penguasaan materi tidak hanya mengandalkan kehebatan guru di kelas; siswa harus mencari dari sumber sumber di banyak tempat. Guru membangkitkan agar semangat belajar siswa di dalam dan di luar kelas selalu menyala-nyala. Guru memberi motivasi pembelajaran.

Sebagai fasilitator guru memberikan kemudahan-kemudahan bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar atau memberikan jalan ke arah pendalaman bagi siswa yang pandai. Hal ini berdasarkan kenyataan dimana potensi dan prestasi siswa sangat beragam dan guru dapat melayani kebutuhan sesuai kemampuan siswa. Guru tidak berprinsip, semua siswa sama saja potensinya. Karena itu, perhatian diberikan merata. Itu guru kuno.

Sebagai pembimbing guru berperan memberikan perhatian kepada siswa-siswa yang mendapatkan kesulitan dalam belajar ataupun dalam memberikan jalan keluar atas segala bentuk hambatan-hambatan yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan. Kesemua itu dilakukan guru dalam upaya mencapai tujuan pelajaran agar tercapai.

Sebagai evaluator guru mengetahui penguasaan dan kemampuan siswa. Berdasarkan evaluasi secara keseluruhan, guru dapat memberikan motivasi, fasilitas atau pun bimbingan yang tepat. Evaluasi penting artinya untuk mendayagunakan segala kemampuan, sarana dan prasarana, situasi dan kondisi untuk PBM agar tujuan tercapai.

Sebagai pengembang materi pelajaran guru dituntut untuk meraih pacuan perkembangan ilmu dan teknologi hingga yang disajikan bukan bahan pelajaran yang itu ke itu saja dari tahun ke tahun. Dengan kata lain, guru dituntut memperkaya, merevisi, menyesuaikan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga apa yang disajikan tidak tertinggal dari kemajuan yang beg itu pesat.

Sebagai pengelola kegiatan PBM guru harus mampu mengerahkan semua sumber, mendayagunakan potensi, fasilitas dan hal-hal terkait lainnya. Untuk itu guru harus mempunyai seperangkat kemampuan yang selalu ditingkatkan sesuai kemajuan ilmu dan teknologi ataupun temuan-temuan baru dalam dunia pendidikan. Dalam konteks ini guru dituntut kemampuan dan keterampilannya dalam merencanakan, mengelola, melaksanakan dan evaluasi untuk PBM berikutnya hingga pengelolaannya dapat makin disempurna dari waktu ke waktu dalam mencapai hasil yang lebih baik.

Sebagai agen pembaharuan guru dituntut aktif mengambil inisiatif dan kreatif agar dapat membuat pembaharuan-pembaharuan pendidikan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecenderungan perubahan yang bakal terjadi di masyarakat; guru dengan inisiatif dan kreativitasnya dapat dijadikan teladan oleh siswa dalam menghadapi berbagai perubahan di masyarakat.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa peran guru begitu penting dan luas; tidak hanya sebagai “pemindah”, pelestasri atau pemapanan yang telah ada tetapi membantu ngembangkan potensi siswa seoptimal mungkin serta dapat mengantipasi perkembangan dan kecenderungan di masyarakat.

Bagaimana menurut Sampeyan

Dikutip dari Ersis Warmansyah Abbas, Banjarbaru, 6 Juni 2009.

Tugas:

Buat kesimpulan tentang guru profesional yg ditulis oleh Ersis Warmansyah Abbas di atas?

Catatan: Diketik 2 spasi, diprint out, tgs individu, dikumpulkan 1 mggu setelah mendapat SMS.