Alhamdulillah, tidak terasa Ramadhan sudah memasuki 10 hari kedua. Berarti pula 10 hari pertama telah kita lewati yang mudah-mudahan kita juga berhasil memeroleh kasih sayang (rahman) Allah sebagaimana dijanjikan (awwalu rahmah). 10 hari kedua adalah waktu dimana sangat dianjurkan untuk memohon ampun kepada Allah (Allahummaghfirli zunubi ya rabbal aalamin). Insya Allah, jika kita bersungguh-sungguh memohon ampunan kepada Allah (taubatan Nashua)atas dosa-dosa yang telah lalu, maka Allah akan mengampuni, dengan catatan kita tidak memiliki dosa dengan sesama. Jika terdapat dosa dengan sesama, misalnya dengan keluarga (khususnya kedua orang tua), tetangga dan teman-teman kita maka harus terlebih dulu meminta maaf kepada mereka itu. Apalagi bulan Ramadhan adalah momentum untuk saling memaafkan, karena ada kecenderungan jika orang sedang berpuasa tidak ingin ada masalah, sehingga kemungkinan untuk saling memaafkan itu terbuka sangat lebar. Itulah salah satu tafsir hadist yang mengatakan bahwa, ketika Ramadhan tiba, maka pintu-pintu sorga dibuka dan sebaliknya pintu neraka ditutup. Artinya, sungguh banyak orang melakukan kebajikan untuk mencapai sorga dan meninggalkan berbagai larangan Allah untuk terhindar dari api Neraka.

Pada 10 hari kedua ini, maka terdapat satu peristiwa yang tentu kita telah mengetahui bersama, yakni “Malam 17 Ramadhan”, dimana Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Alquran adalah mu’jizat terbesar dan terdahsyat bagi umat Islam. Ada beberapa alasan mengapa demikian. Yang paling penting adalah bahwa Alquran adalah petunjuk atau pedoman hidup bagi manusia (hudallinaas).

Ibarat seseorang membeli HP baru, maka untuk megoperasionalkannya maka ia harus terlebih dulu membaca buku petunjuknya. Satu demi satu dibaca. Bagaimana cara meng-charger, bagaimana cara memutar video, merekam, mengirim pesan, dan sebagainya. Tentu hal itu dilakukan agar HP yang baru ia beli tidak rusak, karena digunakan sebagaimana petunjuk yag telah ditentukan.

Begitulah fungsi Alquran. Ia adalah petunjuk hidup manusia. Ia menjadi penunjuk arah ketika seorang Muslim mengalami kesesatan. Hal ini sangat sesuai dengan hadist Rasulullah, yakni “kutinggalkan dua pusaka kepadamu, yang mana pusaka ini tidak akan membuatmu tersesat selama-lamanya yakni Kitabullah (Alquran) dan Sunnaturrasul.

Fenomena di masyarakat, banyak orang yang menjalankan hidupnya tidak dengan berpedoman dengan Alquran dan Assunah. Tetapi berpedoman kepada isme lain, misalya marxisme, sosialisme dan kapitalisme. Memang kewajibannya sebagai seorang Muslim seperti sholat lima waktu, puasa Ramadhan, berzakat dan berhaji ia lakukan, akan tetapi sebagian hidupnya lagi tidak berdasarkan Alquran dan Assunnah. Hal ini sangat bertentangan dengan firman Allah yang menegaskan bahwa seorang Muslim itu harus menjalankan Islam secara totalitas (kaafah). Sebagai contoh, ketika ia bermuamalat (melakukan hubungan dengan sesama manusia, misalnya jual beli (ekonomi) , politik, dan budaya) mereka tetap menjalankan riba. Padahal jelas dalam Alquran, Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Contoh lain, mereka tahu ketika seorang Muslim terpilih menjadi anggota dewan (baik DPR maupun DPRD dan DPD), maka seharusnya ia menjalankan amanah rakyat, seharusnya merakyat dan amanah. Kenyataannya, banyak diantara mereka ketika duduk empuk di kursi majelis lupa kalau ia bisa duduk di kursi itu karena adanya kepercayaan rakyat yang dibebankan kepadanya. Bahkan kadang ada yang menggunakan ilmu “mumpung”. Mumpung jadi anggota dewan maka aku akan mencari relasi sebanyak-banyaknya untuk melebarkan bisnis. Mumpung aku jadi pejabat maka aku akan berusaha memperkaya diri, keluarga dan teman-teman (KKN), dst.

Inilah salah satu tafsir dari sekularisme. Yakni, ketika seorang Muslim tidak berusaha menghubungkan antara ajaran Islam dan aktivitas manusia, khususnya dalam bermuamalat. Padahal Alquran telah mengatur semua, dan dijelaskan secara detail melalui sunnah-sunnah rasul. Satu kesalahan besar ketika ada orang yang memahami bahwa agama adalah urusan akherat semata-mata, dan aktivitas dunia (khususnya dalam berekonomi, berpolitik, berbudaya) adalah urusan manusia itu sendiri. Di dalam kajian sejarah sangat jelas, bagaimana Rasulullah memperaktikkan kehidupan Islami sejak periode Mekkah lebih-lebih pada periode Madinah. Sebuah indikasi bahwa Islam (yang berpedoman kepada Alquran dan Alhadist) tidak dijalankan secara parsial an sich. Ia adalah satu sistem kehidupan yang maha sempura untuk mengatur kehidupan manusia sejak urusan yag paling sederhana sekalipun.

Melihat fenomena tersebut, maka beberapa solusi ditawarkan. Pertama, Alquran wajib dijadikan pedoman hidup agar manusia tidak tergelincir dalam kehidupan dunia dan untuk mecapai kebahagiaan hidup di akherat kelak. Kedua, Alquran adalah petunjuk hidup manusia yang sempurna, sehingga tidak perlu memilah-milah. Di sana telah diatur tentang masalah-masalah ekonomi (untuk mengentaskan kemiskinan dengan konsep zakat misalnya). Masalah sosialisme (yakni berempati kepada kaum dhuafa atau hablumminannaas). Ketiga, tahapan memahami Alquran yakni dimulai dengan mempelajarinya, kemudian memahaminya lalu mengamalkannya. Tentu tahapan ketiga adalah tahapan tertinggi, yakni berupaya mengamalkan seluruh isi Alquran.

Demikian sekelumit tentang bagaimana mempedomani Alquran dalam berkehidupan. Tulisan ini muncul dalam rangka memperingati turunnya Alquran atau Nuzulul Quran malam 17 Ramadhan. Hal ini penting disampaikan untuk menyadarkan kembali bagi mereka yang mungkin lupa fungsi Alquran. Atau mengingatkan lagi bagi mereka yang selama ini mejadikan Alquran hanya sebagai hiasan lemari dan rak buku. Semoga dengan berpedoman dengan Alquran, hidup kita dapat menemukan kebahagiaan, sebagaimana yang diidamkan bersama. Hidup bersama Alquran berarti segala apa yang kita pikirkan dan lakukan dalam beraktivitas sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun sosial (kelompok) selalu berdasarkan apa yang telah digariskan dalam Alquran da Assunnah. Kalau demikian, maka harapannya semoga kita termasuk Muslim yang berIslam secara kaafah. Amin.

Penulis adalah warga FKIP Unlam tinggal di Mustika Graha Asri Banjarbaru, email:fikri_025@yahoo.co.id. Blog. http://www.syaharuddin.wordpress.com, fb:syaharuddinarafah@yahoo.com