Syaharuddin*
Persoalan korupsi telah menjadi masalah krusial di negeri ini. Kosa kata ini pun bukan lagi sesuatu yang asing bagi masyarakat. Sejak di desa sampai di kota, anak remaja hingga dewasa rakyat jelata hingga konglomerat dan pejabat RT hingga pejabat negara hampir mengenal dan sebagian “mengalami’-nya.

Saya pernah berdiskusi dengan teman-teman S2 Sejarah di kampus UGM, bahwa para sejarawan di negeri telah gagal memberikan “penyadaran” kepada bangsa ini terhadap bahaya laten korupsi. Mungkin “bahaya laten komunis” berhasil pada masa orde baru bahkan sampai sekarang, namun bahaya laten korupsi justru tidak mengenal kata akhir.
Tentu tidak proporsional dan profesional jika kesalahan hanya ditujukan kepada sejarawan. Karena, persoalan korupsi adalah sangat kompleks, sehingga memerlukan metode penyelesaian yang kompleks pula, namun tidak terlalu berlebihan jika korupsi saat ini dikatakan persoalan bangsa, yang memerlukan pemikiran bersama dari semua elemen bangsa. Namun, paling tidak mereka ini (termasuk penulis) memiliki andil terhadap kegagalan itu, karena “sejarah” adalah sebuah ilmu tentang apa yang “dipikirkan”, apa yang “dirasakan” dan apa yang “dilakukan” orang pada masa lalu, artinya sejarawan tidak berhasil mensosialisasikan apa yang terjadi masa lalu, khususnya berbagai bentuk korupsi yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu, misalnya keruntuhanVOC (1602-1799) karena korupsi.

Di dalam kitab suci umat Islam (Al Quran), jelas dikatakan bahwa semua peristiwa-peristiwa sejarah itu adalah penting dimaknai, yakni sebagai ibrah, mengambil pelajaran. Namun, berbagai peristiwa yang telah diperlihatkan Tuhan kepada manusia belum juga mampu “menggugah” manusia untuk menjadi manusia lebih baik. Bagaimana kisah Kaum Aad dan Tsamud sehingga ia dihancurkan oleh Tuhan, Kesombongan Raja Firaun sehingga ia ditenggelamkan, bahkan jasadnya berhasil ditemukan kembali untuk “disaksikan” oleh manusia, “Ketakutan” Nabi Yusuf kepada Allah ketika ia “diajak” oleh Istri Raja, Kesabaran Nabi Daud, dan beberapa kisah lainnya adalah sebuah peristiwa sejarah yang sangat penting dijadikan pelajaran. Sejarawan, pemerhati sejarah, dosen sejarah dan guru sejarah, muballig, atau siapa saja adalah orang-orang yang semestinya berperan penting mensosialisasikan berbagai peristiwa sejarah, termasuk sejarah korupsi bangsanya yang telah terjadi sejak lama.

Banyak cara, strategi dan metode yang telah dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat dalam rangka mengurangi aktivitas korupsi. Misalnya, salah satu daerah pemerintahnya menghimbau agar tidak memberikan suap kepada para aparat, toko tidak memberikan kuitansi kosong, tidak melakukan pemotongan dana sosial (sumbangan), dan tidak menandatangi kuitansi kosong dalam melakukan transaski kuangan. Ada juga melalui pembagian stiker secara gratis yang disponsori oleh KPK yang bertuliskan, “AWAS Bahaya Laten Korupsi!” yang bisa ditemukan dimana-mana khususnya di Yogyakarta. Di negara lain, justru lebih kejam dan tegas yakni hukum gantung, sepeti di Cina. Ada juga melalui sekolah melalui kurikulum anti korupsi, partai anti korupsi, dan terakhir kantin anti korupsi.
Salah satu kreativitas oleh masyarakat Yogyakarta dalam hubungannya dengan bahaya laten korupsi, ialah dengan mensosialisasikan anti korupsi melalui kantin sekolah. Beberapa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Yogyakarta membuat terobosan baru (sebagai hasil dari kreativitas masyarakatnya) yakni dengan mendirikan “kantin anti korupsi”. Sekolah semacam ini terdapat beberapa di wilayah Yogyakarta. Pendirian kantin ini bertujuan untuk menanamkan kepada siswa tentang arti penting sebuah kejujuran. Modal kantin ini bersumber dari berbagai pihak, khususnya mereka yang getol melancarkan aksi anti korupsi misalnya beberapa lembaga non-formal dan LSM atau individu. Usaha ini tidak bisnis orietied pure, tetapi merupakan “proyek” ideologi, yang ingin menanamkan sikap kejujuran kepda siswa. Kenyataan ini seakan ingin menegaskan bahwa kejujuran adalah sesuatu yang sangat mahal dan langka. Sehingga wajar jargon-jargon pun bermunculan kemudian, misalnya “lebih sulit mencari orang jujur ketimbang orang pintar”.

Kantin ini tidak dijaga oleh seorang pelayan toko atau kasir. Ia dibiarkan terbuka tanpa penjaga. Beberapa hal yang disiapkan sebagai kelengkapan administrasi ialah label harga dan buku catatan pembelian. Buku ini selalu diisi bagi mereka yang membeli. Semua transaksi dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Kejujuran merupakan inti tujuan kantin anti korupsi ini.

Apa yang dapat dipetik dari kreativitas masyarakat Yogyakarta tersebut? Pertama, masyarakat Yogyakarta tampaknya sudah gerah dengan “penyakit” masyarakat yang bernama korupsi ini. Mungkin karena sangat bertentangan dengan nurani dari hati yang paling dalam sehingga berbagai kreativitas pun kemudian muncul. Kedua, Kejujuran adalah sesuatu yang harus dilatih. Dengan membiasakan anak-anak mengambil sendiri barang yang diinginkan, lalu membayar sesuai dengan harga label, mengambil angsulan sendiri dan menghitung sendiri, yang kadang disaksikan orang dan tanpa orang. Ketiga, diharapkan muncul berbagai kreativitas-kreativitas baru untuk menanggulangi persoalan korupsi. Masyarakat Yogya telah memulai dari hal yang terkecil, setidaknya membuat kita ikut berfikir, bahwa kita adalah bagian yang seharusnya mengambil peran penting terhadap persoalan bangsa ini.

*Penulis adalah Tenaga Pengajar PSP Sejarah FKIP Unlam Banjarmasin, tinggal di Banjarbaru, email: fikri_025@yahoo.co.id, webblog:www.syaharuddin.wordpress.com