Syaharuddin*

Ketika membaca situs http://www.webersis.com, si penulis bercerita tentang beberapa orang guru kesulitan dalam melaksanakan Proses Belajar Mengajar (PBM), khususnya bagaimana menarik perhatian peserta didik. Persoalan ini tergolong klasik. Sejak dulu, berbagai pelatihan digelar, sejak tingkat TK sampai SMA. Para guru dilatih, ditatar, berkali-kali. Bosan pelatihan di daerah, berangkat lagi ke Jakarta dan sekitarnya, bahkan sampai ke luar negeri. Materi yang disajikan pun bervariatif. Misalnya, seperti pengalaman penulis sejak menapaki diri menjadi guru sejak tahun 1998. Sampai tahun 2002, penulis sering mengikuti berbagai pelatihan dan penataran. Celakanya, sebagian teman yang ikut, bukannya bertujuan meningkatkan kualitas, tapi paling tidak bisa bebas mengajar dan yang lebih penting lagi, setelah pelatihan beberapa dana segar –anggaran Negara—pun diterima, sebagai imbalan setelah ditatar. Sudah dapat ilmu, bebas mengajar selama beberapa hari dapat uang pula. Nikmat tenan. Saya pun sempat merasakan gejala itu, namun tidak lama, karena pada akhir 2002, saya harus meninggalkan profesiku untuk memulai profesi baru di FKIP Unlam Banjarmasin. Selama menjadi guru, beberapa pelatihan diikuti, seperti pelatihan DD/CT (Critical Thinking), pelatihan Contextual Teaching and Learning (CTL), dan pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi bidang Sejarah. Semua kegiatan itu dilaksanakan di Kalimantan Selatan, sedangkan pelatihnya sebagian dari dari pusat.
Setelah pelatihan, kami pun diharuskan mampu mempraktikannya ke sekolah-sekolah. Berbagai persiapan diupayakan agar dapat tampil dengan baik di depan kelas. Saya tidak ingat lagi secara persis model dan strategi itu, tapi intinya semua bertujuan agar siswa tertarik dengan materi, agar pembelajaran berjalan efektif, dan berbagai tujuan lainnya.
Cerita di atas hanya sekedar contoh untuk menyebut beberapa, bahwa sekian banyak pendidikan dan pelatihan (DIKLAT), penataran, studi banding, belum juga mampu memberikan kontribusi yang maksimal kepada guru, hubungannya dengan memotivasi siswa dalam PBM di sekolah. Pertanyaannya, mengapa berbagai cara atau metode, strategi, model yang telah diterapkan namun siswa belum mampu maksimal menerima materi, apalagi untuk membentuk karakter siswa? Tulisan ini, akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan harapan dapat memberikan motivasi kepada guru agar memiliki keyakinan dalam mentrasfer ilmu (transfer of knowledge) kepada peserta didik.

Sebagaimana yang telah diurai oleh penulis dalam web di atas, saya pun ingin mengatakan bahwa dalam proses PBM sepatutnya melibatkan “hati”, sehingga ruh pendidikan tetap terjaga. Melibatkan hati akan berdampak terhadap peserta didik, ketika selama pembelajaran di sekolah dilakukan dengan penuh keikhlasan, kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang. Apalagi jika guru dapat membawakannya dengan berbagai metode, strategi, dan model pembelajaran yang cocok dengan kondisi siswa dan sekolah. Jadi, dua hal penting di sini yaitu mendidik dengan kasih sayang (hati), yang dibaluti dengan berbagai strategi, sebagaimana yang telah diterima selama pelatihan dan penataran, maka insya Allah persoalan dalam PBM pun dapat diselesaikan. Walaupun, hal itu masih banyak menemui kendala, misalnya persoalan media, dan berbagai sarana pembelajaran lainnya yang sangat dibutuhkan dalam PBM. Namun, paling tidak kedua hal itu mampu mengurangi kegundahan para guru dalam melakukan transformasi ilmu kepada peserta didiknya.

Dalam bahasa Dr. Arif Rahman dikatakan bahwa, hendaklah mendidik itu tidak saja berorientasi kepada ilmu (transfer of knowledge) tapi juga berorientasi pada “nilai” (transfer of value). Transfer of value sangat identik dengan nilai-nilai pendidikan seorang ibu di rumah. Bagaimana seorang ibu mendidik di rumah? Dalam tulisan di web tersebut telah dijelaskan begitu keikhlasan seorang ibu dalam “mendidik” anaknya sampai ia mengenal siapa dirinya (jatidirinya). Ia menceritakan bagaimana kondisi sang ibu ketika sedang berbadan dua. Kemana-mana dibawa, dan tak pernah mengeluh, bahkan bangga: “Aku sedang berbadan dua lho?, kira-kira seperti itu pengakuannya terhadap teman-teman tetangganya. Sebuah kebanggaan, padahal secara lahiriah sungguh merepotkan, “memberatkan”, dan beberapa kalangan wanita merasa “kecantikannya” justru pudar, apalagi pasca persalinan. Ketika sang anak belum berusia lebih dari dua tahun, maka sang ibu pun harus rela dan ikhlas menyusui, walau kadang menyebalkan karena digigit. Tapi, dia tidak pernah marah, kalau marah hanya sebentar dan sayang lagi, dan begitu seterusnya.

Ada sebuah lagu anak-anak yang tergolong klasik, “kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak ingin kembali, seperti surya menyinari dunia” kurang lebih seperti itulah lagu dulu yang sekarang sudah jarang terdengar. Lagu ini mengisyaratkan bahwa begitu kasih sayang ibu tak terhingga kepada anaknya. Kasih sayang itu digambarkan dalam lagu itu sebagaimana matahari menyinari dunia. Cobalah perhatikan kasih sayang Allah yang satu ini kepada kita. Setiap hari Dia menyinari bumi agar kita bisa beraktivitas pada siang hari. Pada malam hari sinarnya redup dan kita pun bisa istirahat untuk persiapan kerja besok harinya. Bayangkan jika matahari tidak pernah berpindah, mungkin kita gak pernah tidur ya..?. Pemberian nikmat Allah itu, ternyata Dia tidak pernah meminta kita untuk sesuatu yang tdak bisa kita lakukan. Dia Cuma minta agar menjadi manusia yang “baik”.

Kasih sayang Allah kepada hambanya, boleh dikatakan mirip tapi tak sama, dengan kasih sayang seorang ibu dengan anaknya, walaupun beberapa kasus, banyak anak yang “kurang ajar”. Bagaimana ia mengandung kita selama lebih dari sembilan bulan, ketika lahir harus disusui dan membersihakan popoknya, ketika sekolah harus disiapkan bajunya sampai ia dinikahkan, barulah tugas orang tua rampung, karena tanggung jawab berpindah ke suaminya. Namun, kadang setelah berkeluarga, masalah belum selesai. Ia belum mampu menghidupi keluarganya. Akhirnya, orang tua turun tangan lagi agar “buah hatinya” bisa hidup bahagia sebagaimana layaknya orang.

Pemandangan di atas, sangat jelas, bagamana kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Sungguh tiada taranya. Ia tak dapat dibayar dengan apa pun. Maka, sadar dan minta ampunlah bagi anda-anada yang senantiasa menyakiti kedua orang tuanya selama ini, karena ridho Allah terletak kepada ridhonya kedua orang tua kita, khususnya ibu.
Itulah kasih sayang ibu, yang dirindukan semua anak-anak, termasuk anak-anak di sekolah. Mereka telah terbiasa dididik dengan kasih sayang dan cinta. Sejak kecil, mereka selalu diajari untuk memperbaiki kesalahannya jika terjadi kekeliruan dalam bertindak. Mereka dibesarkan agar menjadi orang yang memiliki karakter dan bermental kuat. Mereka dibiarkan mengembangkan potensi minat dan bakatnya. Sebuah kekeliruan jika hal itu dikukan sebaliknya di sekolah

Strategi pengajaran guru pun seharusnya demikian. Paradigma transfer of knowledge sudah saatnya bergeser, atau paling tidak diimbangi dengan transfer of value. Aplikasi kedua hal itu diharapkan mampu memberikan solusi pendidikan kita yang belum mampu “menciptakan” manusia seutuhnya sebagaimana yang dimaui bersama sejak dibangunnya Republik ini.

Penulis adalah Dosen Sejarah FKIP Unlam Banjarmasin, tinggal di Banjarbaru. Email:fikri_025@yahoo.co.id. webblog.www.syaharuddin.wordpress.com