Aliran Sesat Muncul,  MUI Bertindak!Beberapa minggu yang lalu, kita dikejutkan dengan adanya aliran al Qiyadah dan beberapa aliran-aliran sesat sebelumnya yang difatwa sesat oleh Majelis Ulama Indoneia (selanjutnya ditulis MUI). Setelah fatwa sesat muncul, aliran inipun menjadi bulan-bulanan pihak kepolisian.

Selama ini saya tidak banyak mempelajari apa sebenarnya tugas dan wewenang serta tanggung jawab lembaga ini, kecuali hanya memahami bahwa ia bertugas mengurusi soal-soal agama di negeri ini. Namun seringkali, beberapa fatwa MUI mendapat kritik pedas dari masyarakat luas, sehingga adagium bahwa MUI adalah hanya sebuah lembaga pembuat fatwa menjadi mewabah.

Hal ini tampak nyata ketika berita penangkapan kelompok al Qiyadah oleh pihak kepolisian digelar, salah satu stasiun TV swasta pun langsung membuka dialog dengan masyarakat melalui email dan SMS. Dialog yang dibuka adalah ”apakah tindakan pemerintah –dalam hal ini MUI—sudah benar –langkah-langkahnya—dalam menangani setiap munculnya sebuah aliran yang dianggap sesat?” Yang saya tangkap dari wacana ini adalah sebenarnya adalah ada sebagian masyarakat berkesimpulan bahwa langkah MUI tampaknya perlu dievaluasi kembali.  

ada dalam benak saya, MUI adalah sebuah lembaga pengayom masyarakat dalam beragama. Analoginya begini. Anggap saja beberapa aliran sesat itu adalah anak-anak dari seorang Bapak. Biasanya, dalam sebuah keluarga yang memiliki beberapa putera-puteri jelas tidak semua memiliki pola perilaku yang sama. Satu atau dua di antara beberapa anak-anaknya itu biasanya ada yang berprilaku menyimpang, sehingga ia pun kadang-kadang harus berhadapan dengan pihak kepolisian. Lalu, kalau hal itu terjadi maka sikap seorang Bapak sebagai orang yang bertanggung jawab atas pendidikan anaknya adalah dengan memanggilnya, lalu menasehatinya, memberikan pemahaman yang sebenarnya, dan seterusnya. Intinya ada dialog di antara keduanya sehingga dapat memecahkan persoalan tersebut.

sebaliknya, jika ketika sang anak melakukan kesalahan lalu kita main gebuk  saja, maka dapat dipastikan persoalan tidak akan pernah selesai, karena masing-masing tetap pada pendiriannya, dan terjadilah kebuntuan serta anarkhis pun menjadi jalan terakhir.
Dari analisa di atas, maka saya ingin memberikan sumbang saran terhadap lembaga MUI, sebagai lembaga yang dianggap dapat menganyomi masyarakat dalam hidup beragama.
Pertama, seharusnya MUI membuka wacana dialog;  Sebelum fatwa dicetuskan, sebaiknya aliran tersebut diajak berdialog. Dari dialog tersebut akan tampak dan jelas pokok persoalannya –walaupun beberapa aliran itu memang akhirnya menurut kajian hukum syara termasuk sesat. Kedua, seharusnya MUI juga berusaha meluruskan beberapa ajaran aliran sesat itu yang dianggap bertentangan dengan Al Quran. Ketiga, setelah dialog usai, dan pemimpin serta para pengikutnya tetap pada pendiriannya maka fatwa sesat baru dimunculkan, namun jika ajaran itu tidak disebarkan lagi maka seharusnya tidak perlu mereka dikejar-kejar polisi, sebagaimana komunitas Eden –yang baru-baru telah menghirup udara bebas. Tapi memang identitas Islamnya harus dihilangkan, sehingga ia menjadi sebuah aliran kepercayaan tersendiri.

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud ”melecehkan” siapapun, khususnya MUI yang terhormat, tapi mari kita dukung tradisi budaya dialog, untuk segala hal, bukan hanya persoalan aliran sesat di negeri ini, tetapi berbagai masalah politik, ekonomi, budaya sehingga kita tidak akan dianggap ”orang luar” sebuah negara yang masyarakatnya anarkhis yang juga berarti tidak beradab.

*Penulis adalah pelajar Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, email:fikri_025@yahoo.co.id, website:www.syaharuddin.wordpress.com, KP EWA’MCo.