Syaharuddin*
Ramadhan yang selalu menjamu kita sekali dalam setahun, kini datang lagi. Rasa gembira dengan kedatangan “tamu” agung ini pun dimanifestasikan dengan berbagai aktivitas, seperti sholat tarawih pada malam harinya, kemudian memperbanyak membaca Alquran, mengisi setiap waktu dengan zikir, bersedeqah kepada setiap orang yang memang membutuhkan, membukakan puasa pada mesjid dan langgar-langgar, serta sholat malam (tahajjud) pada malam harinya.

Begitu pula dengan ibadah yang berkenan dengan hati. Kita senantiasa menjaga hati (sebagaimana lagu ini selalu diucapkan oleh Kyai Kondang kita Aa Gym), dari segala kemunafikan, riya, sombong, tamak, iri dengki, hasad an sebagainya.

Yang jelas semua upaya dalam rangka menyambut tamu agung ini sungguh luar biasa. Hampir setiap waktu dikerahkan untuk menjamu tamu yang sangat mulia ini, namun muncul satu pertanyaan dari mungkin sekian banyak pertanyaan dalam hati saya yakni “sudahkah puasa Ramadhan dapat membentuk pribadi Muslim yang berjiwa disiplin?”. Mungkin pertanyaan ini mirip dengan ibadah sholat yang sudah kita kerjakan selama ini. Pertanyaan yang paling mendasar adalah “sudahkah sholat kita dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar?” sebuah pertanyaan yang sampai hari ini belum terjawab dengan baik.
 

Secara kasat mata mayoritas umat Islam telah mengerjakan ibadah sholat baik yang wajib maupun sunnah. Namun. tampaknya ibadah yang satu ini tidak banyak berdampak terhadap diri pribadi seorang Muslim. Lihatlah misalnya para koruptor, mereka adalah sebagian besar adalah seorang Muslim yang taat menjalankan ibadah sholat, tapi mengapa hal itu bisa ia lakukan. Analisa saya hanya ada dua, yakni pertama, karena orang tersebut belum “mendirikan sholat” tapi baru mengerjakan sholat.

Mendirikan dan mengerjakan merupakan dua kata yang mirip tapi tak sama. Menurut saya, mendirikan sama dengan menegakkan. Jadi, orang yang mendirikan sholat itu artinya menjaga sholat itu agar tetap tegak, kokoh dan kuat. Sehingga sholat itu dapat merasuki ke dalam jiwa kita yang paling dalam dan selanjutnya mempegaruhi pola pikir dan perilaku kita dalam bertindak. Nah, orang yang hanya “mengerjakan” sholat maka ia hanya pada tataran kulit saja, belum isi. Atau sebatas rutinitas ritual semata, hanya menggugurkan kewajiban an sich.  

Analisa kedua adalah seorang Muslim yang belum mampu meninggalkan perbuatan keji dan mungkar padahal ia telah menunaikan ibadah sholat, karena jiwanya telah dirasuki oleh sifat sekulerisme –sekulerisme dalam arti memisahkan antara kehidupan beragama/bertuhan dan kehidupan dunia. Seorang Muslim yang dihinggapi sifat sekulerisme maka ia tidak pernah merasakan hubungan antara ibadah sholat  dengan bisnis yang ia geluti, dengan aktivitas yang ia jalankan atau apa saja yang berhubungan dengan aktivitas duniawi. Kasarnya begini, “urusan dunia ya dunia, urusan akherat ya akherat”, jangan dicampur aduk. Padahal Islam itu adalah agama yang kaafah, artinya sempurna, menyeluruh, paripurna, yang mampu mengatur segala aspek kehidupan manusia. 

Sebelum menjawab pertanyaan tentang hubungan puasa dan disiplin di atas, saya akan menguraikan beberapa hal tentang beberapa ibadah dalam agama Islam yang berpotensi dapat membentuk jiwa yang berdisiplin.

Pertama, sholat. Seorang Muslim yang menjalankan ibadah sholat –karena ada juga yang tidak menjalankan lho….—maka seharusnya ia memiliki disiplin yang tinggi, karena beberapa hal yang mempengaruhi. misalnya, sholat itu telah ditentukan waktunya. Ada waktu awal, tengah dan akhir. Walaupun pembagian ini ada kecenderungan untuk tidak berdisiplin, namun tetap saja sholat itu berpotensi membentuk jiwa yang disiplin karena harus dikerjakan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Kedua, zakat. Orang yang ingin berzakat harus memperhatikan waktu. Seorang Muslim yang menyerahkan zakat fitrah  setelah sholat id maka itu tidak lagi dihitung sebagai ibadah zakat, tapi hanya sedekah biasa. Artinya, seorang Muslim di sini wajib memperhatikan waktu dalam membayar zakat   Begitu pula dengan ibadah haji dan ibadah-ibadah lainnya baik yang sifatnya wajib maupun sunnah.

Kembali pada persoalan hubungan ibadah puasa dengan disiplin, maka jelaslah bahwa kalau ibadah sholat, zakat dan haji sangat identik dengan waktu, maka ibadah puasa juga demikian adanya. Mari kita perhatikan uraina berikut, seorang yang ingin menjalankan ibadah puasa maka ia di sunnahkan untuk bangun sekitar pukul 03.30 untuk menjalankan ibadah bersahur. Kita tahu bahwa, saat itu adalah enak-enaknya untuk istirahat malam, namun kita sangat dianjurkan untuk menjalankan ibadah sunnah (muakadah: sangat dianjurkan) itu walaupun hanya seteguk air putih. Lalu, kita pun melakukannya. Kemudian, ketika asyiknya kita bersantap sahur, tiba-tiba alarm waktu imsak (menahan) maka kita pun diperintahkan untuk berhenti memasukkan apapun ke dalam rongga mulut.

Kemudian, selama menjalankan ibadah puasa sejak pascaimsak sampai menjelang bedug Maghrib, di sana dibentangkan berbagai aturan-aturan dan larangan-larangan agar puasa kita tetap terjaga baik kualitasnya maupun pahalanya. Sehingga kita pun dapat terpelihara dari sia-sianya puasa sebagaimana bunyi dalam sebuah hadis “berapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus”.
Larangan-larangan itu dimulai dengan larangan berkata-kata yang tidak terpuji seperti mengghibah, fitnah, dusta, janji palsu, dan sebagainya sampai larangan “berhubungan” dengan suami istri (pada di siang hari), serta beberapa larangan dan perintah lainya..
Demikianlah, jika kita perhatikan dengan seksama maka ibadah puasa Ramadhan sangat berpotensi membentuk jiwa Muslim yang disiplin. Kenyataan yang kita saksikan selama ini adalah adanya gejala kurang disiplin yang terjadi baik dalam forum-forum ilmiah maupun non ilmiah. Misalnya rapat. Sudah menjadi sebuah kebiasaan ketika seorang diundang untuk mengikuti rapat maka bisa dipastikan ia molor antara 30- 60 menit. Atau acara seminar yang jadwalnya tertulis pukul 09.00 wit, maka yang membacanya lalu berfikir bahwa mulainya paling pukul 10.00 wit. Atau acara-acara lainnya. Atau suka menunda-nunda pekerjaan. Padahal waktu kita yang akan datang  ya untuk pekerjaan selanjutnya.juga. Maka pantaslah kalau waktu itu ibarat pedang, kalau kita tidak disiplin memenejnya maka kita bisa dibunuhnya sendiri.

Hal itu terjadi karena rupanya molor sudah menjadi bagian budaya masyarakat, sehingga sulit meubah perilaku itu dengan sekejab.Perlu proses waktu yang panjang. Oleh karena itu, momentum puasa Ramadhan ini selayaknyalah kita jadikan sebagai ajang  mengubah diri. Hari esok harus lebih baik dari hari kemarin. Masa depanku harus lebih baik dari masa laluku agar aku tidak termasuk dalam kelompok orang-orang yang merugi (QS. Al Ashr 1-3).  

Penulis adalah Pelajar Sekolah Pascasarjana Sejarah UGM tinggal di Banjarbaru, email:fikri_025@yahoo.co.id, website:www.syaharuddin.wordpress.com, dan anggota KP EWA’Mco.