Syaharuddin*

Setiap bulan Ramadhan tiba, maka pemandangan sehari-hari yang kita saksikan adalah berlomba berbuat kebajikan. Kebajikan ada yang hanya bersifat individu ada juga bersifat sosial. Kebajikan yang bersifat individu misalnya tidak absen setiapo malam menunaikan ibadah sholat tarawih, melantunkan ayat-ayat suci Alquran, memperbanyak sholat-sholat sunat dan zikir. Sedangkan kebajikan yang bersifat social adalah bersedekah, artinya aktivitas kita itu ikut berdampak terhadap orang lain.

Dulu, waktu saya aktif di Lembaga Dakwah Kampus (LDK) AMBH UNLAM Banjarmasin sekitar tahun 1994-1997, setiap bulan Ramadhan tiba, maka panitia ta’mir Ramadhan melaksanakan berbagai kegiatan di antaranya adalah acara membukakan puasa. Membukakan puasa membutuhkan dana yang banyak berkisar dua sampai tiga ratus per hari. Mungkin kita bertanya darimana dana itu didapatkan? Alhamdulillah selama kurang lebih lima tahun saya aktif di lembaga tersebut masalah dana membukakan puasa hamper-hampir tidak mendapat kendala.

Ramadhan bulan berbagai. Ya mungkin karena kalimat itulah sehingga para donatur tetap, mulai dari rektor Unlam sampai dengan para pejabat teras Unlam lainnya tidak “malu-malu” mengeluarkan uang pribadinya yang berkisar Rp. 250.000 sampai Rp 500.000 untuk keperluan buka puasa bersama itu.

Di tempat lain, para selebriti mulai dari artis cilik sampai para senior, juga tidak ketinggalan mereka berbagi kepada kaum dhuafa, fakir miskin, anak-anak yatim piatu dan sebagainya. Ramadhan memang memiliki kemampuan “menghipnotis” orang untuk tidak ragu-ragu membantu sesama.

Ayo Ramadhan masih 12 hari lagi, mari berlomba untuk berbagai dengan sesame sebagai bukti ketakwaaan kita pada Allah SWT. Ingat, harta yang kita miliki sebagian adalah milik mereka yang tidak berpunya. Sudahkah kita berbagi kepda sesame hari ini, walaupun hanya salam dan senyum?  

Ramadhan Bulan Pendidikan dan Latihan (DIKLAT)

 Sejak awal hingga akhir Ramadhan, pemandangan yang kita saksikan tidak lain adalah kaum Muslimin di seantero dunia berlomba-lomba meningkatkan ibadah, baik kuantitas maupun kualitasnya. Mungkin berangkat dari sebuah hadist: “begitu banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga”. Berdasarkan hadist inilah sangat berpotensi orang beribadah terutama puasa untuk berhati-hati agar ibadahnya tidak sia-sia.

Di samping itu, puasa juga menuntut bagi orang yang menjalankannya untuk sabar. Sabar dalam arti menahan segala perbuatan dan perkataan yang berpotensi membatalkan pahala puasa atau menurunkan kualitas puasanya. Sabar untuk tidak membicarakan kejelekan saudaranya sendiri (ghibah), sabar untuk tidak marah, sabar untuk tidak egois, sabar untuk tidak boros, sabar untuk selingkuh, sabar untuk korupsi, sabar untuk tetap bekerja walau lapar dan haus, dan sabar-sabar lainnya.

Satu pertanyaan yang harus dijawab oleh kita semua. Apakah setelah Ramadhan berakhir maka sabar yang kita latih selama sebulan penuh dapat kita pertahankan selama 11 bulan ke depannya? Kalau kita tidak bisa mempertahankan, berarti pendidikan dan latihan sabar yang kita lakukan selama sebulan itu tidak berhasil atau nol besar.

Ibarat DIKLAT, maka puasa Ramadhan bolehlah kita umpamakan suatu bulan pendidikan dan latihan yang instrukturnya adalah langsung dari Allah SWT. Semua aturan DIKLAT sudah diatur sedemikian rupa mulai dari A sampai Z. Apa itu puasa, bagaimana berpuasa, apa tujuan berpuasa, syarat dan rukun puasa, yang memebatalkan puasa, yang membatalkan pahala puasa dan lain-lain, semua telah diatur dalam JUKLAK dan JUKNIS –dalam bahasa manajemen sekarang. Nah…harapan setelah Ramadhan berakhir, maka tujuan puasa yaitu agar kita menjadi orang yang bertaqwa dapat tercapai.
Bagaimana     menilai hasil pelatihan kita selam sebulan itu? Gampang. Yakni apa yang telah di latih selama Ramadhan –yakni sabar tadi– maka harus selalu dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari pada 11 bulan berikutnya. Gampang kan?

Tujuan Puasa adalah Takwa

Setiap tahun kita berpuasa. Sama juga dengan sholat, setiap hari bahkan setiap beberapa jam kita melaksanakan ibadah sholat. Pertanyaannya adalah koq maksiat tidak mengalami penurunan secara signifikan?  Koq umat Islam tidak tambah-tambah maju, justru mengalami kemunduran disbanding dengan umat lain?

Ada dua kemungkinan jawaban yang sering kita dengar. Pertama, karena ibadah (baik puasa maupun sholat atau mungkin ibadah wajib lainnya seperti haji) belum benar dilaksanakan. Dalam arti kata semua aktivitas itu masih merupakan sebuah rutinitas ritual yang hampir-hampir tidak berbekas. Kedua, mungkin, sekali  lagi mungkin metode dakwah kita yang belum benar.

Puasa bertujuan agar di penghujung Ramadhan dan pascaramadhan kita mendapat derajat takwa. Maka itu salah besar jika ibadah puasa hanya sebuah rutinitas ritual yang tidak berbekas.

Oleh karena itu, momentum Ramadhan kali ini mari mengeavluasi diri. Sudahkah kita melaksanakan ibadah dengan baik dan benar pascaramadhan? Sudahkah puasa berbekas pada 11 bulan berikutnya? Sudahkah latihan sabar yang kita laksanakan selama sebulan penuh dapat dilaksanakan di luar bulan Ramadhan?  Kalau jawabannya adalah SUDAH maka ada indikasi bahwa kita telah mencapai derajat TAKWA.