Dipesh Chakrabarty

Dipesh melihat gejala bahwa “subaltern studies” melalui proyek postkolonial India mulai bangun dari “tidurnya yang panjang” dan ada gejala India memperlihatkan tanda-tanda yang mendukung agar mereka dapat menampilkan dirinya sendiri. Dipesh sangat berharap agar orang-orang India berbicara tentang masa lalunya yang mana sebelumnya tidak diungkap oleh para sejarawan dan para mahasiswa India istri dalam penelitian yang mereka lakukan.

Tujuan Dipesh tidak lain sebenarnya hanya menginginkan agar orang India mau dan mampu memperlihatkan eksistensinya dalam sejarah, tidak hanya bergantung dengan model sejarah yang ditulis oleh orang-orang Eropa yang belum adil dan obyektif dalam menggambarkan kondisi ril India yang sesungguhnya.

Seperti apa yang diungkapkan oleh Edwar W. Said (1994) dalam “Orientalisme-nya” bahwa sebenarnya orang-orang Timur (termasuk India) tidak mampu menampilkan dirinya sendirinya sehingga wajar ketika orang-orang Barat (dalam hal ini bangsa-bangsa Eropa) merupakan representasi dalam menampilkan dunia Timur. Namun juga, suatu hal wajar, sebab kebanyakan filsuf Barat selalu mencari teori-teori untuk membenarkan pendirian mereka.

Pada bagian lain, Dipesh juga membuat suatu pilahan yang cukup ekstrim tentang periode tertentu di India yaitu masa transisi dari periode pertengahan ke periode modern. Kemudian ia memberi istilah/terminology berdasarkan perspektif waktu dan perubahan (sejarah) yaitu: pada masa periode pertengahan ia menyebut dengan isilah masa penuh kezaliman dan pada modern ia sebut dengan istilah masa berlakunya aturan hukum (rule of law) dan masa feodal/kapitalis masa sesudahnya. Saya kira pemilahan ini sangat ekstrim, namun beralasan karena ia mengatakan itu ketika Alexander Dow menulis “ History of Hindostan” yang diterbitkan pertama kali antara tahun 1770-1772, yang pada intinya bahwa Inggris telah melakukan kesewenang-wenangan dan kezaliman di India dan itu sangat bertentangan dengan pemerintahan Inggris.

Dipesh juga mengatakan bahwa outobiografi tentang India yang ditulis oleh Chudury belum mewakili sejarah India. Namun masalah adalah, ketika para mahasiswa ingin menggali tentang India lebih dalam, maka hasilnya tidak akan jauh-jauh yaitu hanya menghasilkan sebuah karya yang memperlihatkan hegemoni Inggris atas India dan kemudian memperkenalkan sistem negara modern, pemikiran tentang bangsa dan juga tentang posisi kewarganegaraan India itu sendiri di dalam sejarah.

Di sinilah maksud Dipesh yang ingin disampaikan yaitu agar penulisan tentang India harus melihat realitas sosial India yang sesungguhnya, bukan melulu eksplorasi kolonial. Dengan kata lain, sejarah sosial India dengan perspektif lain perlu digali sehingga mampu memberikan gambaran masyarakat India masa kolonial yang sesungguhnya.
Muncul pertanyaan, mengapa mahasiswa di India dalam menulis negerinya sangat sulit melepaskan bayang-bayang kolonial, menurut penulis bahwa di sinilah kesuksesan Barat dalam menanamkan ideologinya terhadap daerah koloninya. Sehingga walaupun penjajahan telah usai namun penjajahan secara ideologi masih masih mendominasi. Mestinya dalam wacana postkolonial seorang peneliti berusaha mengangkat tema-tema sosial, walaupun itu terjadi pada periode kolonial. Misalnya, menggambarkan dan menganalisa tingkat kelahiran pada masa Tanam Paksa diberlakukan oleh Gubernur Jenderal van den Bosch, atau bagaimana proses dinamika pendidikan Langgar (Islam) hinggá menjadi sebuah sekolah (madrasah) pada masa kolonial, dan banyak lagi tema-tema menarik lainnya yang dapat menggambarkan realitas sosial di masa lampau yang lebih mendekati obyektivitas.

Pada bagian lain Dipesh juga menjelaskan bahwa para orientales telah mengkatagorikan “the East” dan The West” yang menurutnya suatu katagori yang harus ditolak. Sebab dengan adanya pengkatagorian tersebut, menurut penulis maka nantinya akan Sangat berpengaruh terhadap para penyair, novelis, filsuf, ekonom, sejarawan dan sebagainya yang telah menerima pembedaan antara Timur dan Barat tersebut sebagai titik tolak untuk menyusun teori-toeri, epik-epik, novel, deskripsi-deskripsi sosial dan perhitungan-perhitungan politik yang cermat mengenai dunia Timur, rakyatnya, adat kebiasannya, pikirannya, nasibnya yang telah ditakdirkan padanya, dan sebagainya.
Kemudian dalam pengkajian subaltern, ide-ide dalam penulisan sejarah biasanya bersumber dari beberapa masalah sosial yang tampak kontradiktif, kelompok-kelompok marginal, dan lain-lain. Seperti tulisan Budi Susanto (editor) (2005) dimana beliau berusaha menampilkan kembali sisa-sisa cerita (yang mungkin lebih mendekati sebuah kebenaran). Namun disayangkan karena masih terdapat nada menghujat pada rezim yang lalu. Kalau demikian apa bedanya ketika kita menghujat Kolonial?