Oleh Syaharuddin*

Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) telah dibahas dan menuai banyak kritik dari berbagai pihak, termasuk sebagian dari umat Islam sendiri. Bahkan intervensi asing pun tidak mau ketinggalan. Balkan Kaplale salah seoarang yang berjuang merumuskan RUU APP ini mengaku telah didatangi oleh beberapa asing yang mengatasnamakan perwakilan Uni Eropa dan Amerika yang intinya, mereka khawatir  RUU APP ini disyahkan menjadi undang-undang (UU). Hal ini mengindikasikan telah terjadi intervensi asing. RUU APP jelas mereka tolak sebab RUU tersebut akan membentengi bangsa Indonesia dari penghancuran moral lewat industri  gaya hidup destruktif yang mereka produksi dengan kedok Hak Asasi Manusia (HAM) dan kebebasan berekspresi (Republika, Jumat 17/2/2006).

Oleh karena itu, umat Islam harus waspadah dengan pihak asing atau pun juga agen-agennya yang tersebar dimana-mana di negeri ini. Hal ini, jelas sekali Allah SWT dalam firmanNya dalam Al Quran yang terjemahan bebas demikian “bahwa sesungguhnya orang-orang “asing” itu tidak akan pernah puas, rela, ikhlas dengan kita sampai kita mengikuti jejak langkah (budaya) mereka”. Maka sangat wajar jika beberapa hari yang lalu Saudara Balkan Kaplale  kedatangan tamu yang tak diundang untuk segera membatalkan RUU APP tersebut.

Penulis masih ingat, sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika memberikan ceramah di salah satu mesjid di Banjarmasin dengan tema “ Bahaya 3 F” (Food, Fun, and Fashion). Ternyata tema tersebut masih sangat relevan dan kontekstual sampai hari ini. Hal ini, membuktikan firman Allah SWT tersebut di atas. Dengan demikian, masihkah kita ragu dengan Al Quran ? (QS: Al Baqarah: 2).

Singkatnya, 3F itu adalah suatu usaha bangsa asing –dalam hal ini sebagian Uni Eropa dan Amerika—untuk menjauhkan generasi muda Muslim dari nilai-nilai ajaran Islam yang kaafah. Usaha tersebut melalui makanan ala Barat dan Eropa, segala macam bentuk permainan yang memabukkan serta berbagai model pakaian yang dapat merangsang birahi seorang pria.  

Alhasil, ketiga hal tersebut di atas, boleh dikatakan meraih sukses gemilang karena mendapat sambutan yang luar biasa dari anak bangsa ini yang mayoritas  adalah generasi Muslim yang seharusnya hidup berdasarkan way of life Islam (Al Quran dan Hadist).

Penulis ingin menguraikan salah satu satu dari ketiga hal di atas yaitu masalah fashion. Coba kita perhatian model pakaian wanita Muslim saat ini sungguh “mengerikan”. Baju  dan celana kentat, biasanya bahannya dari levis –padahal bahan levis di Amerika menurut sejarahnya adalah pakaian para buruh pelabuhan karena bahannya sangat kuat sehingga tidak gampang sobek–  kalau kebetulan memakai rok panjang biasanya agak melorot sehingga pusarnya nampak jelas. Kalau kebetulan memakai rok pendek biasanya di belakangnya terbelah. Baju pun yang ia pake terlalu pendek.

Kalau pun kadang mereka itu memakai kerudung –bukan jilbab, dua hal yang berbeda pengertiannya – maka biasanya dililit di leher sehingga yang semestinya ditutup -dada–  masih tampak dengan jelas. Sehingga fungsi kerudung tidak sempurna (lihat QS. An Nuur: 31). Biasanya model kerudung seperti demikian dipengaruh oleh para selebritis yang mengkreasikan kerudung sehingga nampak lebih modern, katanya. Namun apapun  alasannya, kerudung yang dililit di leher tidak sesuai dengan syariah Islam yang keterangannya telah disampaikan oleh Allah dengan santun melalui Al Quran surah An Nuur ayat 31 itu.

Batasan Pornografi menurut Al Quran

Kembali kepada tema sentral di atas, bahwa sebenarnya Islam sebagai agama yang Rahmatan lil aalamin maka jelas sekali masalah-masalah apapun di dunia ini pasti ada solusinya dalam Al Quran. Pornografi dan pornoaksi adalah bagian yang tak dapat dihindarkan dalam setiap perbincangan. Artinya, Al Quran pun jauh sebelumnya telah berbicara mengenai hal itu. Namun pertanyaannya adalah mengapa timbul perbedaan pendapat? Hemat penulis jelas di sana terdapat kepentingan-kepentingan, diantaranya misalnya kepentingan politis. Mungkin juga ada kelompok-kelompok yang dirugikan, sehingga ia berjuang agar RUU  APP ini dibatalakan atau paling tidak diadakan refisi seperti yang diusulkan oleh LBH APIK. Namun apapun alasannya, LBH APIK tetap bagian kelompok yang “menolak” RUU APP ini (Republika Sabtu 19/2/2006). 
Bagaimanapun, sebenarnya Al Quran jauh-jauh hari telah memberikan gambaran tentang batasan-batasan aurat wanita.

Menurut hemat penulis, pornografi identik dengan memperlihatkan, mempertontonkan  aurat dengan sengaja baik secara langsung maupun lewat media gambar (majalah, Koran, dll), media elektronik (CD, TV, suara di kaset, radio –karena suara wanita juga aurat), yang dapat merusak generasi muda Muslim. Oleh karena itu, penulis melihat bagaimana Al Quran mengajarkan kita tentang menjaga aurat. Paling tidak ada dua surah dalam Al Quran dan satu hadist yang sangat jelas  –artinya tidak perlu penafsiran yang nyelimet karena nashnya sangat jelas dan mudah dipahami. Dalam Al Quran Surah An Nuur: 31 yang artinya: ………………..“

Kemudian Al Quran Surah Al Ahzab ayat 59 juga sangat jelas yang artinya “Hai Nabi, katakan kepada istrimu-istrimu, anak-anakmu, wanita-wanita muslim untuk memakai jilbab –pakaian panjang, tidak transparan dan kentat sampai di mata kaki–  agar mereka lebih di kenal”.
Kemudian lagi sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, yang bunyinya “Sesungguhnya Asma bin Abu Bakar pernah memasuki rumah Rasulullah SAW dalam keadaan memakai pakaian tipis hingga Rasulullah SAW berpaling darinya. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Asma, jika seorang wanita telah mengalami haid, ia tidak layak memperlihatkan tubunhnya (auratnya)  kecuali ini dan ini (seraya menunjukkan pada wajah dan kedua telapak tangan beliau ( HR. Ibnu Majah).

Ketiga landasan di atas menurut hemat penulis, Al Quran dan Rasulullah SAW cukup tegas dan sangat jelas membatasi aurat  wanita, seakan tidak perlu dipertanyakan lagi. Sangat mudah dipahami, mungkin karena kepentingan-kepentingan politis –kapitalistis—dan nafsu kitalah yang selalu menghalangi-halangi untuk “membumikan” Al Quran (Nurcholis Madjid ,1998) di negeri yang notabene penduduknya mayoritas Muslim ini. Wallahu a’lam.

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Pasca Sarjana Jurusan Humaniora/Sejarah UGM Yogyakarta. Email: fikri_025@yahoo.co.id. dan anggota KP EWA’MCo.