Oleh Syaharuddin* 

Pengantar
Di Indonesia terdapat berbagai organisasi sosial dan politik  baik yang bergerak di bidang kemasyarakatan maupun dakwah (agama). Di antara organisasi dakwah tersebut yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Hizbut Tahrir (HT), syariah, dan khilafah tidaklah dapat dipisahkan. Penegakan syariah dan khilafah adalah adalah visi dan misi perjuangan dakwah HT. Pasalnya, pasca keruntuhan Khilafah Ustmaniyah tahun 1924, problem terbesar umat Islam adalah tidak diterapkannya syariah dalam tatanan kehidupan masyarakat, yang sejatinya diwujudkan dalam wadah institusi khilafah Islamiyah. Di samping itu, yang lebih penting, penegakan syariah dan khilafah adalah kewajiban dari Allah dan Rasul-Nya yang telah dibebankan kepada seluruh kaum Muslimin. (al-Wa’ie, Edisi Maret 2005:1).

Pada tanggal 3 Maret 1924 Khilafah Islamiyah dibubarkan oleh Kamal Attaturk, agen Inggris keturunan Yahudi. Attaturk juga melakukan  proses sekulerisasi dengan tangan besi, syariat Islam diganti. Islam pun dicampakkan. Attaturk lupa, Islamlah yang membuat Umat Islam dan Turki jaya dan gemilang.

Sekarang setelah lebih dari 80 tahun tanpa khilafah, penderitaan umat semakin bertambah. Negeri-Negeri Islam terpecah belah menjadi puluhan negara, Bayangkan mereka tidak busa menyelamatkan Palestina yang dijajah Israel, atau penduduk Irak yang dibantai. Darah kaum Muslimin demikian gampang ditumpahkan dimana-mana oleh penjajah AS dan sekutunya, yang dibantu agen-agen penghianat dari Umat Islam sendiri. Padahal, jumlah umat Islam lebih dari 1,5 miliar. Kemiskinan, kebodohan dan konflik pun identik dengan negeri-negeri Islam, Inilah buah dari sekulerisasi (al-Wa-‘ie, edisi Maret 2005).

Pembahasan
Kalau kita cermati uraian singkat di atas yang penulis kutip dari majalah al-Wa’ie edisi Maret 2005, maka ada beberapa hal yang bisa kita garisbawahi sehubungan dengan visi dan misi organisasi Islam HTI. Pertama, adalah organisasi Islam HT sangat yakin bahwa kemunduran umat dan negeri-negeri Islam di segala bidang saat ini disebabkan karena tidak adanya seorang khalifah yang mampu menerapkan syariat Islam secara kaafah (totalitas). Kedua, Kemiskinan, kebodohan, makin tingginya angka kriminilitas, dekadensi moral, KKN, SDM rendah (bahkan anjlok), merupakan buah dari tidak tidak diberlakukan syariah Islam yang dipimpin oleh seorang Khilafah. Ketiga, kehidupan sekuler yang menimpa kaum Muslimin. Namun persoalan sekulerisme dalam Islam masih menjadi kontroversial (Meuleman, 1996).      

Kemunduran umat Islam akan terus berlangsung jika Khilafah Islamiyah tidak ditegakkan, karena jika Khilafah Islamiyah ditegakkan maka secara otomatis syariah Islam akan dapat dijalankan dengan totalitas. Syariat Islam itu sendiri yang dimaksud adalah berbagai aturan Islam baik yang ada di Al-Quran maupun Al- Hadist yang harus dilaksanakan oleh kaum Muslimin dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang menyangkut di segala bidang, sosial, ekonomi, pendidikan, politik, hankam, dan cultural.

Misalnya, kasus rendahnya SDM Indonesia. Maka kalau dikaji secara mendalam, sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi, di antranya yaitu  rendahnya anggaran pendidikan yang disediakan oleh pemerintah. Dengan rendahnya anggaran pendidikan maka banyak hal yang tidak dapat difungsikan atau terjadi disfungsi di segala bidang yang menyangkut proses pendidikan. Dimulai dari rendahnya gaji para tenaga pendidik (Guru dan dosen), hal ini akan berimbas di dalam proses belajar mengajar di sekolah. Guru dan dosen tidak lagi profesional dalam melaksanakan tugasnya karena disibukkan dengan pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan hidup diri dan keluarganya. Begitu juga dengan fasilitas PBM di sekolah. Karena rendahnya anggaran dan ditambah lagi kurang pedulinya para stakeholder dalam menangani pendidikan maka, semua sarana dan prasarana yang menunjang PBM di sekolah tidak mencukupi bahkan sangat kurang, sehingga para siswa hanya kenyang dengan teori saja dan miskin praktik.

Banyak orang bertanya, mengapa bangsa Indonesia terbelakang padahal SDA-nya tinggi? Banyak jawaban yang bisa diberikan, di antaranya karena masyarakat Indonesia tidak punya “percaya diri” yang notabene adalah mayoritas umat Islam. Karena tidak percaya diri inilah maka ada kecenderungan semua SDA yang ada dikelola oleh orang asing, sehingga masyarakat Indonesia menjadi tamu di rumah sendiri!.

Penutup
Visi Misi Hizbut Tahrir yang telah diuraikan di atas, menurut penulis adalah mengacu pada tradisi berfikir positivisme. Alasannya pertama, pola-pola pemikiran yang dilemparkan kepada massa adalah logika yang tajam dan sangat mudah untuk dicerna oleh masyarakat awam apalagi kaum intelektual kampus. Kedua, pendekatan realitas menjadi sebuah tema pokok yang selalu didengung-dengungan. Misalnya, mengapa terjadi dekadensi moral, jawabnya adalah karena tidak diberlakukannya syariat Islam secara totalitas yang mampu mengatur kehidupan umat di segala bidang kehidupan. Hukum positif belum mampu memberikan jawaban atas semua persoalan di atas. Karena itulah, syariat Islam “mungkin” sebuah alternatif yang sangat logis untuk diberlakukan, sehingga dekadensi moral, kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dapat diatasi.