Syaharuddin*

Banyak pengkajian yang telah dilakukan tentang mengapa umat Islam terbelakang khususnya bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan Informasi Teknologi (IT). Padahal kalau dipandang secara sepintas kita (umat Islam) adalah umat terbesar termasuk juga sumber daya alamnya (SDA). Kemudian Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, sarat dengan nilai-nilai universal dalam petunjuk hidupnya. Namun, mengapa kita menjadi umat yang terbelakang, mesti ada udang di balik batu’?

Barangkali kita tidak cukup hanya bangga dan bernostalgia bahwa kita adalah umat yang besar, agama rahmatan lil’alamin, Al Quran adalah penyempurna kitab-kitab sebelumnya, pernah berjaya pada masa dinasti Umayah dan Abbasyiyah, (abad ke-7 sampai 13) dan seterusnya. Kalau kita cuma bisa ber-romantis ria dengan masa lalu, maka saya yakin kita akan jalan di tempat dan akan juga tertinggal dibanding degan umat lain. Memang kita kita dulu punya Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Khawarizmi, Ibnu Khaldun dan seterusnya, yang integritas keilmuan dan kulamaannya tidak tertandingi pada masanya, namun cukupkah kita hanya selalu membanggakannya?

Kita harus berubah dan berfikir untuk mengikuti jejak-jejak mereka dengan cara ikut berkompetisi dalam IPTEK, sehingga pencitraan Islam sebagai agama yang semata-mata mengutamakan akherat, tersingkirkan dengan sendirinya dan dengan demikian Islam akan mampu bersanding dan bersaing dengan umat dan bangsa lain di dunia.

Negeri-negeri Islam saat ini nampak jauh tertinggal jika dibanding dengan negara-negara Barat dan sebagian di Asia. Misalnya, Amerika Utara, Australia dan Selandia Baru yang protestan; Eropa Selatan dan Amerika Selatan yang Katholik; Eropa Timur yang Katholik ortodoks; Israel yang Yahudi; India yang Hindu; Cina, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, Singapura yang Buddhis Konfusialis; Jepang yang Buddhis Taois; dan Thailand yang Buddhis. Praktis di semua penganut agama besar di muka bumi ini, para pemeluk Islam adalah yang paling rendah dalain sains dan teknologi. (Muliawan, 2005).

Faktor historis perkembangan umat Islam ketika mengalami masa kemunduran sejak Abad Pertengahan (tahun 1250-1800 M), yang pengaruhnya bahkan masih terasa sampai kini. Pada masa itu, dominasi fuqaha dalam transformasi ilmu agama sangatlah kuat, sehingga terjadi kristalisasi anggapan bahwa ilmu agama tergolong fardhu ‘ain atau kewajiban individu, sedangkan ilmu umum termasuk fardhu kifayah atau kewajiban kolektif, apabila telah dijumpai orang yang menekuninya maka orang lain menjadi gugur kewajibannya. Akibat faktor ini umat dan negeri-negeri Islam tertinggal jauh dalam hal ilmu pengetahun dan teknologi (IPTEK) jika dibandingkan dengan umat dan bangsa lain.

Kalau kita ingin berkaca pada Al Quran dan Al Hadist maka banyak sekali ayat dan hadist yang menjelaskan tentang pentingnya ilmu. Misalnya dalam surah Ar Rahman (ayat 33) yang artinya “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.

Para ulama bersepakat bahwa yang dimaksud dengan “kekuatan” pada ayat tersebut ada dua yaitu kekuasaan dan ilmu pengetahuan. Namun yang menyadari hal itu adalah Uni Soviet dan Amerika Serikat yaitu dengan mengkaji tentang alam angkasa raya dan selanjutnya melakukan peluncuran-peluncuran ke bulan dan planet-planet lainnya. Begitu pula ketika kita membaca sebuah hadist bahwa “menuntut ilmu adalah merupakan sebuah kewajiban Muslim laki-laki dan perempuan.”

Hadist ini paling tidak memberikan dua informasi jelas kepada kita bahwa pertama, menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban, ilmu di sini tidak di pilah apakah itu agama ataupun umum, namun kemudian banyak ditafsirkan oleh para ulama dan intelektual Muslim dengan ilmu agama saja yang hanya berhubungan dengan akherat.

Di sinilah kesalahan kita dalam memahamai pengertian ilmu. Informasi kedua, yang bisa kita tangkap adalah menuntut ilmu itu bukan hanya milik laki-laki saja, akan tetapi juga milik kaum hawa. Jadi sesungguhnya, emansipasi wanita itu bukanlah sebuah barang baru, akan tetapi sebuah konsep yang telah di kampayekan oleh Rasulullah SAW sejak abad ke–6. Sehingga ketika Barat dan sekutunya menuduh Islam anti gender dalam segala hal maka sesungguhnya Barat belum paham bagaimana sebenarnya konsep gender dalam Islam itu sendiri, maka patutkah kita bangga dengan Barat dan sekutu-sekutunya? Akan tetapi ketika Barat maju dalam bidang IPTEK maka kita harus mengakui dan belajar dengan mereka, bukan justru dijauhi dan dimusuhi.

Kemudian dalam Surah Al Mujadilah: 11, yang berbunyi “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Kata ilmu di sini juga bukan mengacu pada ilmu agama saja akan tetapi menyangkut semua ilmu pengetahuan. Atau bukan saja ilmu agama yang akan ditinggikan derajatnya akan tetapi juga mereka yang menuntut ilmu umum.

Sehingga di beberapa tulisan sering saya sampaikan bahwa Al Kindi adalah seorang filsuf sekaligus agamawan, begitu pula Al Farabi. Ibnu Sina, selain ahli dalam bidang kedokteran, filsafat, psikologi, dan musik, beliau juga seorang ulama. Al Khawarizmi adalah ulama yang ahli matematika. Al Gazali, walaupun belakangan populer karena kehidupan dan ajaran sufistiknya, sebenarnya beliau telah melalui berbagai bidang ilmu yang diketahuinya, mulai dari ilmu Fiqih, Kalam, Falsafah, hingga Tasauf.

Begitu pula Ibnu Rusyd, seorang faqih yang telah berhasil pada masa Reneissance dan juga Ibnu Khaldun dikenal sebagai ulama peletak dasar sosiologi modern, jauh sebelum Comte ataupun Durkheim.
Pemahaman tentang pengertian fardhu kifayah perlu dipikirkan kembali (rethinking) agar kita tidak terlalu jauh tertinggal dalam bidang IPTEK, walaupun dalam bidang politik, Islam mulai menampakkan dirinya yang sebenarnya, seperti kemenangan partai-partai yang berideologi Islam baik di Indonesia maupun di Palestina dengan Hamasnya, dan negeri-negeri Muslim lainnya seperti Arab Saudi, Iran, Afghanistan, Mesir, Turki, dan seterusnya. Mari bertafakkur dan berfikir untuk kebangkitan Islam, kalau tidak sekarang kapan lagi?

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Pascasarjana Jurusan Sejarah UGM, Dosen Sejarah FKIP Unlam, Email: fikri_025@yahoo.co.id dan KP EWAM’Co.