You are currently browsing the monthly archive for Maret 2011.

1. Amerika pada periode kuno: Peradaban suku Aztec.
2. Amerika pada periode kuno: Peradaban suku Inca.
3. Amerika pada periode kuno: Peradaban suku Maya.
4. Amerika pada periode awal kolonisasi bangsa-bangsa eropa.
5. Terbentuknya Koloni Amerika.
6.Perang kemerdekaan Amerika.
7. Perang Sipil (1861-1865) dan Rekonstruksi (1865-1877) .
8. Perubahan struktur social politik (termasuk hub. Luar negeri/diplomasi) masyarakat
Amerika sampai akhir abad 19.
9.Perubahan struktur social ekonomi Amerika sampai akhir abad 19.
10. Perubahan struktur social politik (termasuk hub. Luar negeri/diplomasi) masyarakat
Amerika abad Abad 20.
11.Perubahan struktur social ekonomi Amerika abad 20.
12. Amerika latin dalam menghadapi imprealisme dan kolonialisme bangsa-bangsa
Eropa (sejak abad 19-20).
13. Amerika dan Perbudakan (sampai abad 20)
14. Amerika dan Demokrasi (abad 20-21)
15. Amerika dan Islam (abad 20-21)
16. Amerika dan Teroris (abad 20-21)
18.Amerika dan Politik Luar negeri (abad 20-21)
19. Amerika dan Yahudi/Israel (abad 20-21)
20. Amerika dan ekonomi kapitalis (Abad 20-21)
21 Amerika dan hubungannya dengan Negara-negara sosialis komunis (Abad 20-21)
22. Amerika dan hubungannya dengan Negara-negara Timur Tengah (Abad 20-21)
23. Amerika dan hubungannya dengan Indonesia (Abad 20-21)

Catatan: Tugas makalah (pengantar, isi, kesimpulan+daftar pustaka 3-5 sumber). 2-3 orang per kelompok. Jika jumlah tema melebihi dari kelompok boleh dipilih tema yg disukai. Ketik 1,5 spasi di print out dan perbaikan akhir di copy ke CD (bisa 1 CD beberapa kelompok). Waktu: 2-3 Minggu.

Menrt: M. Yamin bahwa bangsa Indian berasal dari Asia, masuk ke Amerika dalam 3 gelombang: (1) adalah perpindahan orang Mongol dari Asia Timur Laut menuju Amerika Utara dengan melalu Selat Bering, kurang lebih 13.000 th yl; (2) yaitu bangsa Austronesia dari barat ke timur melalui lautan Pasifik dan sampai di Amerika Selatan (3)yakni perpindahan pelaut Austronesia menurut arus laut yang bergerak dari New Zealand dan Asia Timur bergerak menuju Amerika Selatan. Perpaduan antara bangsa Mongol dan Austronesia melahirkan bangsa Indian di Amerika.

Menurut versi lain, kurang lebih 20.000 sampai 50.000 tahun yang lalu bangsa Amurian dari Siberia di Rusia menyebrang melalui selat Bering ke benua Amerika. Kemudian disusul oleh bangsa Mongol awal abad ke-1 masehi, dari percampuran kedua bangsa tersebut, lahirlah bengsa Indian Amerika (Amerind) yang menyebar diseluruh benua Amerika dari utara ke selatan, mereka hidup dari berburu, menangkap ikan, mengumpulkan makanan dan buah-buahan liar.
Teori Ketiga yaitu: Bahwa orang Indian berasal dari Samudera Atlantik, mereka berlayar ke Utara, terdampar ke wilayah  Kanada dan selanjutnya mengikuti route yang sama dengan teori pertama yakni  dari Amerika Utara, AS, dan terus ke Meksiko yang umumnya  beriklim sedang dan panas, dari sinilah mereka menetap dan menyebar ke wilayah Selatan di Amerika Latin.
Pada mulanya bangsa Aztec merupakan suku yang pertama kali berjuang di daerah pinggiran wilayah tersebut. Selama pengembaraan mereka sebagai kelompok luar-garis, bangsa Aztec kadang-kadang mengalami kemerosotan sampai berpakaian dedaunan dan makan serangga. Pada sekitar tahun 1325 Masehi bangsa Aztec sampai ditempat yang sekarang menjadi kota Meksiko.
Suku Maya mendiami daerah Meksiko Selatan dan bagian-bagian Amerika Tengah lainnya. Pusat kebudayaannya terdapat di Semenanjung Yukatan. Kota paling awal berdirinya diperkirakan pada abad ke-3 di hutan Guatemala yang lebat dan yang terakhir diperkirakan dibangun pada abad ke-10 dan abad ke-11 pada sebuah dataran di Yukatan bagian Utara. Kota-kota ini merupakan peninggalan orang-orang Maya yang memiliki tingkat kebudayaan yang tinggi dengan catatan arsitektur paling beraneka ragam dan paling maju. Kebudayaan suku Maya ini berkembang dari abad ke-1 S M sampai mulainya penggalan Masehi.

Tugas Individu:  Buat Peta Amerika (dengan terlebih dahulu membuat peta dunia di pojok kanan dg ukuran kecil). Dilukis pada kertas A3, dikumpul setelah mendapat instruksi melalui SMS.

A.    Periode Organisasi Awal:
1.    Budi Utomo
2.    Sarekat Islam
3.    Indische Partij

B.    Organisasi Agama:
1.    Muhammadiyah (Indonesia dan di Kalsel);
2.    NU (Indonesia dan di Kalsel);
3.    Musyawaratutthalibin (di Kalsel);
4.    MIAI, MASYUMI dan PSII;

C.    Organisasi Sekuler:
1.    PKI

D.    Elite Baru:
1.    Perhimpunan Indonesia dan Taman Siswa

E.    Orientasi Baru:
1.    PNI
2.    PPPKI, dan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru)

F.    Masa Krisis:
1.    PBI, Parindra, dan Gerindo

G.    Langkah Baru:
1.    Petisi Sutardjo dan GAPI
H.    Masa Jepang (Indonesia dan Kaslel)

I.    Menjelang Kemerdekaan (Indonesia dan Kalsel

J.    Biografi tokoh: Soekarno dan M. Natsir;

Catatan: uraian tugas di atas hanya tema sedangkan judul dibuat sendiri dan menarik serta focus dalam satu masalah.Bentuk tugas makalah, 1 kel. 2 orang, diprint out, setelah perbaikan terakhir lalu burning CD (bisa digabung beberapa kelompok), dikerjakan selama 2 mgg setelah mendapat instruksi melalui SMS.

DALAM kegiatan pembelajar tiga komponen utama, guru, bahan pembelajaran, dan siswa saling berkaitan dalam mencapai tujuan pendidikan. Hilang atau timpangnya satu ‘tiga tungku’ tersebut akan berakibat gagalnya pencapaian tujuan. Dengan kata lain, ketiganya harus saling bersinergi dalam mencapai tujuan.

Sepanjang sejarahnya, pergeseran empasis dalam nemandang ketiga komponen tersebut bisa saja terjadi. Sebagaimana dikatakan Lapp (1975: 3): “some times ‘content’ will dominate, some times either ‘teacher’ or ‘student’ will dominate”. Perubahan empasis terjadi berdasarkan pandangan dan tujuan yang dicapai.

Apa pun aanlisisnya, untuk mencapai tujuan pembelajarn, peran guru sangat penting. Karena itu perlu dikaji profil guru itu sendiri serta perannya. Menurut T. Raka Joni (1983), dalam sejarahnya, setidaknya ada tiga pandangan mendasar terhadap guru, yaitu:

Pertama, guru dipandang sebagai orang mempelajari ilmu pengetahuan dan keterampilan tertentu. Guru adalah semua orang yang mempelajari sesuatu dan dapat kembali mengajarkannya, tanpa harus menjalani pendidikan guru. Artinya, siapa saja yang menguasai ilmu tertentu dan mengajarkannya adalah guru.

Kedua, guru dipandang sebagai orang yang menguasai bahan yang akan diajarkannya tanpa memperhatikan kemampuan menyampaikan secara baik. Jadi tekanannya pada penguasaan bahan yang akan diajarkan, dan sama dengan tahap pertama, guru juga tidak harus menguasai tentang bagaimana mengajarkannya atau menyampaikan secara baik.

Ketiga, selain dituntut menguasai bahan, guru juga dituntut menguasai prinsip-prinsip dan teknologi pendidikan agar dapat menunaikan tugasnya sebagai pendidik. Dengan kata lain, guru harus menguasai ilmu atau bahan pengajaran dan bagaimana mengaj arkan atau menyampaikannya agar tujuan pendidikan tercapai.

Perubahan pandangan tentang guru dan peranan guru itu sendiri berdasarkan keadaan obyektif perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat dimana guru tidak dapat lagi mengandalkan apa yang dipelajarinya saja.

Kalau pada awalnya guru dipandang sebagai sumber yang serba tahu hingga orientasi PBM “teacher centered”, sekarang ini hal tersebut tidak mungkin lagi. Guru sudah tidak mungkin mengumpul semuanya. Artinya, guru membaginya dengan siswa. Pandangan “student centered” adalah orientasinya. Guru dituntut untuk membelajarkan siswa guna mencapai perkembangan optimal (Parawansa, 1988& 15).

Asumsi dasarnya siswa bersekolah membawa atau telah mempunyai potensi cipta, rasa dan karsa atau menurut Bloom (1956) potensi kognitif, afektif dan psikomotorik hingga guru bertugas membantu mengembangkan potensi-potensi bawaan siswa tersebut. Potensi siswa tersebut yang harus dibantu pengembangannya oleh guru hingga siswa merupakan “centre of activity” .

Pandangan ini lebih maju, baik dalam menempatkan siswa dalam konteks PBM maupun dalam melihat peranan guru dimana guru bukan sekedar pelaku “transfer of knowledge” peran guru bukan berarti makin “menyempit” melainkan tetap penting sebab gurulah yang ‘mengatur’ lingkungan hingga terjadi proses belajar (Nasution, 1982: 8). Peranan guru tetap saja penting (Sutisna, 1983: 109).

Dalam kerangka demikian, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar dalam artian alih pengetahuan-pengetahuan (Hasan, 1988: 9) tetapi sebagai motivator, fasilitator, pembimbing, evaluator, pengembang materi pelajaran, pengelola PBM, dan agen pembaharuan (Darmodiharjo, 1983, Shabuddin, 1985, Parawansa dan Abdullah, 1988: 16-22).

Sebagai motivator guru membangkitkan semangat dan kesadaran siswa agar belajar tidak cukup di kelas saja. Penguasaan materi tidak hanya mengandalkan kehebatan guru di kelas; siswa harus mencari dari sumber sumber di banyak tempat. Guru membangkitkan agar semangat belajar siswa di dalam dan di luar kelas selalu menyala-nyala. Guru memberi motivasi pembelajaran.

Sebagai fasilitator guru memberikan kemudahan-kemudahan bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar atau memberikan jalan ke arah pendalaman bagi siswa yang pandai. Hal ini berdasarkan kenyataan dimana potensi dan prestasi siswa sangat beragam dan guru dapat melayani kebutuhan sesuai kemampuan siswa. Guru tidak berprinsip, semua siswa sama saja potensinya. Karena itu, perhatian diberikan merata. Itu guru kuno.

Sebagai pembimbing guru berperan memberikan perhatian kepada siswa-siswa yang mendapatkan kesulitan dalam belajar ataupun dalam memberikan jalan keluar atas segala bentuk hambatan-hambatan yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan. Kesemua itu dilakukan guru dalam upaya mencapai tujuan pelajaran agar tercapai.

Sebagai evaluator guru mengetahui penguasaan dan kemampuan siswa. Berdasarkan evaluasi secara keseluruhan, guru dapat memberikan motivasi, fasilitas atau pun bimbingan yang tepat. Evaluasi penting artinya untuk mendayagunakan segala kemampuan, sarana dan prasarana, situasi dan kondisi untuk PBM agar tujuan tercapai.

Sebagai pengembang materi pelajaran guru dituntut untuk meraih pacuan perkembangan ilmu dan teknologi hingga yang disajikan bukan bahan pelajaran yang itu ke itu saja dari tahun ke tahun. Dengan kata lain, guru dituntut memperkaya, merevisi, menyesuaikan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga apa yang disajikan tidak tertinggal dari kemajuan yang beg itu pesat.

Sebagai pengelola kegiatan PBM guru harus mampu mengerahkan semua sumber, mendayagunakan potensi, fasilitas dan hal-hal terkait lainnya. Untuk itu guru harus mempunyai seperangkat kemampuan yang selalu ditingkatkan sesuai kemajuan ilmu dan teknologi ataupun temuan-temuan baru dalam dunia pendidikan. Dalam konteks ini guru dituntut kemampuan dan keterampilannya dalam merencanakan, mengelola, melaksanakan dan evaluasi untuk PBM berikutnya hingga pengelolaannya dapat makin disempurna dari waktu ke waktu dalam mencapai hasil yang lebih baik.

Sebagai agen pembaharuan guru dituntut aktif mengambil inisiatif dan kreatif agar dapat membuat pembaharuan-pembaharuan pendidikan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecenderungan perubahan yang bakal terjadi di masyarakat; guru dengan inisiatif dan kreativitasnya dapat dijadikan teladan oleh siswa dalam menghadapi berbagai perubahan di masyarakat.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa peran guru begitu penting dan luas; tidak hanya sebagai “pemindah”, pelestasri atau pemapanan yang telah ada tetapi membantu ngembangkan potensi siswa seoptimal mungkin serta dapat mengantipasi perkembangan dan kecenderungan di masyarakat.

Bagaimana menurut Sampeyan

Dikutip dari Ersis Warmansyah Abbas, Banjarbaru, 6 Juni 2009.

Tugas:

Buat kesimpulan tentang guru profesional yg ditulis oleh Ersis Warmansyah Abbas di atas?

Catatan: Diketik 2 spasi, diprint out, tgs individu, dikumpulkan 1 mggu setelah mendapat SMS.

Agaknya, kegelisahan Bertrand Russell dalam bukunya “The Function of a Teacher”, kini terbukti. Mengajar, lebih daripada profesi lainnya, telah mengalami transformasi selama dua ratus tahun terakhir. Dari suatu profesi kecil, dengan keahlian tinggi yang hanya dinikmati oleh segelintir orang, menjadi suatu bidang jasa umum yang besar dan penting. Profesi ini mempunyai tradisi yang besar dan terhormat, membentang dari awal sejarah manusia hingga masa-masa mutakhir.
Dahulu seorang guru diharapkan memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan istimewa, yang kata-katanya patut untuk didengarkan. Waktu itu mengajar bukanlah sutau profesi yang diorganisir, dan tidak ada pengawasan atas apa yang diajarkannya. Memang benar bahwa mereka kemudian sering dihukum mati karena ajaran-ajarannya yang dipandang bersifat subversif. Socrates dihukum mati dan Plato dijebloskan ke penjara. Tapi kejadian demikian tak sampai menghambat tersebarnya ajaran-ajaran mereka. Tiap orang yang memiliki naluri guru yang murni akan lebih senang hidup terus dalam buku-bukunya dari pada dalam tubuhnya. Suatu perasaan kemerdekaan intelektual sangat penting artinya bagi pemenuhan yang sesungguhnya dari fungsi-fungsi guru, sebab memang sudah tugasnya untuk menanamkan pengetahuan  serta daya nalar yang dimilikinya ke dalam proses pembentukan pendapat umum.

Namun kini, profesi guru tak lagi istimewa. Bila dibandingkan dengan pekerjaan profesional lain, seperti dokter, pengacara, akuntan, arsitek dan sebagainya, maka profesi guru memiliki peluang yang lebih terbuka. Siapapun dapat menjadi guru, asal ada lowongan. Banyak orang-orang yang bertalarbelakang pendidikan non guru menjadi guru, tanpa ada sanksi ataupun peringatan. Ada insinyur petanian mengajar IPS, ada sarjana IAIN non-jurusan tarbiyah (kependidikan) mengajar akutansi, ada sarjana biologi mengajar agama dan sebagainya.
Secara substansiil mungkin kemampuan mengajar mereka dapat diakui, namun secara profesional praktik semacam itu adalah keliru. Jabatan professional adalah jabatan yang memerlukan keahlian khusus, mempunyai jenjang karier dan dilindungi oleh kode etik dan kompetensi-kompetensi keguruan.

Kode etik adalah aturan norma yang mengikat para anggota dan mempunyai sanksi moral bagi yang melanggarnya dan melindungi kepentingan profesi. Dalam kode etik disebutkan bahwa guru adalah seorang pendidik, bukan hanya sebagai pengajar. Sebagai seorang pendidik, maka keberadaan guru tak hanya berkewajiban menyampaikan materi (transfer of knowledge) kepada siswa, tetapi juga berkewajiban menyampaikan skill dan nilai (transfer of skill and transfer of value).

Ini berarti bahwa tugas guru tidak selesai pada aspek knowledge saja, pandai ilmu pengetahuan dan dapat menyampaikan kepada siswa, namun juga harus dapat menjadi teladan bagi siswanya. Perilaku yang dilakukan oleh guru harus menjadi cermin atau contoh bagi siswanya.

Secara khusus, sebagai sebuah profesi keguruan, ada beberapa kriteria seorang guru. Menurut versi National Education Association (NEA), guru berarti jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual, menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus, memerlukan persiapan profesional yang lama, memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan, menjanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanen, menentukan standarnya sendiri, lebih mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi, mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
Tidak mudah menjadi guru, perlu persiapan, latihan, pembiasaan dan pendidikan yang cukup. Itulah sebabnya, salah satu kompetensi guru profesional itu harus ada ijazah guru. Ijazah bukan semata-mata karena alasan formalitas. Ijazah guru menjadi penanda seseorang telah menguasai kompetensi serta metodologi pengajaran.

Penguasaan materi bagi guru itu penting, tapi belum cukup. Guru harus menguasai metodologi pengajaran. Bagaimana menyampaikan materi yang berat agar terasa ringan, bagaimana melayani sejumlah siswa dengan berbagai macam tingkah dan polahnya. Untuk itu, guru harus dapat memahami psikologi perkembangan, untuk mengetahui keadaan psikis anak sesuai dengan perkembangannya. Pengembangan kurikulum, untuk mengetahui alur pelajaran yang harus diajarkan. Teknologi pengajaran, untuk membantu siswa dalam memudahkan memahami pelajaran dan sebagainya. Materi-materi itulah yang diajarkan dalam lembaga pendidikan keguruan dan program akta.

Dikutip dari Fatah Syukur  (11-04-2008)

Tugas Individu:

Setelah membaca artikel Fatah Syukur di atas, buatlah beberapa poin penting atau semacam kesimpulan yang berkaitan dengan profesionalisme guru.

Catatan: Diketik 2 spasi, di print out, dikumpul 1 minggu  setelah menerima perintah melalui SMS.

Komentar Terakhir

syaharuddin on Sejarah PGRI
syaharuddin on Final Tes Sejarah Pendidikan I…
syaharuddin on Studi (Negara) Postkoloni…
syaharuddin on Al Idrisi: Sang Geografer Musl…
syaharuddin on Si Jenius yang Religius

Flickr Photos

The guardian

Untitled

1/4 daguerreotype plate in hand

More Photos

 

Maret 2011
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 77,097 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.