1. Mohenjodaro
Benda-benda yang ditemukan: huruf, bangunan, perhiasan, alat rumah tangga, permainan anak-anak yang sudah dihiasi berbagai seni gambar dan seni ukir yang indah, mereka telah mengenal biantang: gajah, unta, kerbau, anjing. Berdasarkan benda-benda yang ditemukan di Mohenjodaro, maka dapat disimpulkan bahwa peradaban Lembah Sungai Indus di Mohenjodaro sudah sangat tinggi.

2. Harappa
Benda-benda yang ditemukan: arca-arca, patung (terra cotta) yang diukir seperti bentuk wanita telanjang dg dada terbuka. Ukiran itu member makna bahwa ibu merupaka sumber kehidupan; alat dapur dari tanah liat, periuk belanga, pembakaran dari batu keras (masih kuat sampai sekarang); sebuah patung pohon disamping dewa (gambaran kesucian pohon bodhi tempat Sidharta menerima wahyu) beberapa ratus tahun kemudian; arca-arca yg melukiskan lembu yg menyerang harimau; lembu yang bertanduk, sebagai gambaran bahwa mereka sangat mensuckan binatang. Hal ini tampak ketika masyarakat India mensucikan sapi sampai sekarang.

Kesimpulan: Peradaban LSI sama dengan kebudayaan di Sumeria dan Babylonia: mereka ahli dalam pembuatan barang batu dan logam; mengenal huruf pictograph (huruf yg terdiri dari gambar yg berbentuk binatang, seperti ikan. LSI juga dapat dikatakan lebih tinggi daripada di Eropa pada saat yang sama.

BANGSA ARYA
Bangsa Arya atau Indo Arya mendiami kawasan di sebelah timur sungai Indus: Diantara sungai Sutlej dan Yamuna. Arya adalah bangsa pengembara. Mereka memiliki kemampuan bersyair yang tinggi walau tidak mengenal bahasa tulis. Tradisi lisan ini merupakan transisi masa prasejarah dan sejarah. Diduga bahwa syair-syair yang dibuat oleh bangsa Arya dibuat setelah kebudayaan Harappa dan Mohenjodaro runtuh, sekitar 1500-1000 SM. Kedatangannya di India harus menyingkirkan terlebih dulu masyarakat sebelumnya, yakni masyarakat pendukung kebudayaan Mohenjodaro dan Harappa. Ciri masyarakat itu adalah berbahasa Dravida, dan tidak berhidung (menurut kitab Veda), bibir tebal, kulit hitam, dan menyembah dewa phallus (dewa kejantanan).

Bangsa Arya sangat menghargai wanita. Hal itu terbukti ketika para wanita dipercayakan untuk mengatur rumah tangga, membangi kurban, mengatur para budak dan anggota keluarga yang lain. Wanita juga ditugaskan menggiling gandum, mencuci alat-alat dapur, dan melahirkan anak (laki-laki). Budaya Arya sangat mendambakan anak-anak laki-laki, jika tidak diperoleh maka istri bisa dicerai. Begitupula ketika suami meninggal, maka sang istri harus menaiki pancake, tempat pembakaran jenazah suami dan ikut terbakar bersama suami. Abu jenazah serta tulang belulang dicuci dan disimpan dalam guci.

Kebiasaan lain bangsa Arya yaitu gemar melakukan lomba perang-perangan atau lomba memanah. Tari-tarian dilakukan dengan gembira yg diiringi dg music. Mereka juga punya kebiasaan bermain judi (permainan dadu). Perkawinan hanya terjadi pada wanita dewasa dan tidak dikenal poligami, kecuali para kepala suku. Bagi mereka perkawinan adalah sesuatu yang suci. Hal itu dapat dilihat dalam kitab veda: “Saya menggandeng tanganmu untuk kebahagiaan dan kebesaranmu sampai ke hari tua dengan saya suamimu”.

KITAB RAMAYANA DAN MAHABARATA
Inti cerita tersebut adalah kisah perjalanan Bangsa Arya. Kedua, kedudukan pendeta tidak terlalu penting dibading ksatria. Ketiga, kemegahan yg terbesar adalah mati dalam pertempuran, yg bakal menjamin kemasyuran abadi. Prajurit harus ditopang dengan kejujuran ketika berhadapan dengan musuhnya. Sedangkan wanita digambarkan sebagai wanita setengah pria, yg menjadi teman sejati, sumber abadi dari sifat baik, kesenangan dan kekasih dalam keluarga. Istri yg baik adalah telam dalam kesunyian, seorang ayah yang member nasehat, dan suatu peristirahatan dalam menempuh pengembaraan hidup.

TUGAS INDIVIDU!

1. Jelaskan tentang kelahiran Hindu dan Budha?
2. Jelaskan, mengapa di India muncul Sekte-sekte?
3. Buat peta Asia Selatan ukuran A3!

Ket. Diposting paling tanggal 2 Oktober 2009

About these ads