You are currently browsing the monthly archive for Desember, 2008.
Hal yang paling penting dalam pergantian tahun adalah evaluasi. Dalam manajemen apapun di dunia, evaluasi memiliki peran sentral untuk mengetahui keberhasilan seorang individu atau perusahaan. Mengevaluasi diri berarti mencoba mengorek-ngorek masa lalu kita. Apa yang sudah kita buat selama ini? Jawaban pertanyaan itu, hanya diketahui oleh diri kita masing-masing. Mungkin tidak terlalu berlebihan jika mengingat masalah lalu adalah sebuah metode atau salah strategi mengukir prestasi di masa depan. Keberhasilan seseorang atau kelompok tidak serta merta terjadi begitu saja, ia ditunjang oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah bagaimana kita belajar dari pengalaman masa lalu. Kegagalan yang terjadi bukanlah sesuatu hal yang mesti disesali, akan tetapi sebuah kesuksesan yang tertunda.
Semoga tahun 2009 ini membuat kita semakin profesional, kreatif, produktif dan mulai berfikir untuk orang lain. Mungkin selama ini kita egois, maka di tahun ini mari mulai lebih banyak senyum, yang intinya membahagiakan siapa saja ketika kita berada di tengah-tengah mereka. Entah itu keluarga, komuntas tertentu atau dimana saja. Krisis global yang terjadi setidaknya membuat kita lebih sadar untuk lebih banyak berbuat untuk diri dan orang lain, dengan kata lain meningkatkan solidaritas umat.
Syaharuddin*
Ketika membaca situs www.webersis.com, si penulis bercerita tentang beberapa orang guru kesulitan dalam melaksanakan Proses Belajar Mengajar (PBM), khususnya bagaimana menarik perhatian peserta didik. Persoalan ini tergolong klasik. Sejak dulu, berbagai pelatihan digelar, sejak tingkat TK sampai SMA. Para guru dilatih, ditatar, berkali-kali. Bosan pelatihan di daerah, berangkat lagi ke Jakarta dan sekitarnya, bahkan sampai ke luar negeri. Materi yang disajikan pun bervariatif. Misalnya, seperti pengalaman penulis sejak menapaki diri menjadi guru sejak tahun 1998. Sampai tahun 2002, penulis sering mengikuti berbagai pelatihan dan penataran. Celakanya, sebagian teman yang ikut, bukannya bertujuan meningkatkan kualitas, tapi paling tidak bisa bebas mengajar dan yang lebih penting lagi, setelah pelatihan beberapa dana segar –anggaran Negara—pun diterima, sebagai imbalan setelah ditatar. Sudah dapat ilmu, bebas mengajar selama beberapa hari dapat uang pula. Nikmat tenan. Saya pun sempat merasakan gejala itu, namun tidak lama, karena pada akhir 2002, saya harus meninggalkan profesiku untuk memulai profesi baru di FKIP Unlam Banjarmasin. Selama menjadi guru, beberapa pelatihan diikuti, seperti pelatihan DD/CT (Critical Thinking), pelatihan Contextual Teaching and Learning (CTL), dan pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi bidang Sejarah. Semua kegiatan itu dilaksanakan di Kalimantan Selatan, sedangkan pelatihnya sebagian dari dari pusat.
Setelah pelatihan, kami pun diharuskan mampu mempraktikannya ke sekolah-sekolah. Berbagai persiapan diupayakan agar dapat tampil dengan baik di depan kelas. Saya tidak ingat lagi secara persis model dan strategi itu, tapi intinya semua bertujuan agar siswa tertarik dengan materi, agar pembelajaran berjalan efektif, dan berbagai tujuan lainnya.
Cerita di atas hanya sekedar contoh untuk menyebut beberapa, bahwa sekian banyak pendidikan dan pelatihan (DIKLAT), penataran, studi banding, belum juga mampu memberikan kontribusi yang maksimal kepada guru, hubungannya dengan memotivasi siswa dalam PBM di sekolah. Pertanyaannya, mengapa berbagai cara atau metode, strategi, model yang telah diterapkan namun siswa belum mampu maksimal menerima materi, apalagi untuk membentuk karakter siswa? Tulisan ini, akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan harapan dapat memberikan motivasi kepada guru agar memiliki keyakinan dalam mentrasfer ilmu (transfer of knowledge) kepada peserta didik.
Sebagaimana yang telah diurai oleh penulis dalam web di atas, saya pun ingin mengatakan bahwa dalam proses PBM sepatutnya melibatkan “hati”, sehingga ruh pendidikan tetap terjaga. Melibatkan hati akan berdampak terhadap peserta didik, ketika selama pembelajaran di sekolah dilakukan dengan penuh keikhlasan, kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang. Apalagi jika guru dapat membawakannya dengan berbagai metode, strategi, dan model pembelajaran yang cocok dengan kondisi siswa dan sekolah. Jadi, dua hal penting di sini yaitu mendidik dengan kasih sayang (hati), yang dibaluti dengan berbagai strategi, sebagaimana yang telah diterima selama pelatihan dan penataran, maka insya Allah persoalan dalam PBM pun dapat diselesaikan. Walaupun, hal itu masih banyak menemui kendala, misalnya persoalan media, dan berbagai sarana pembelajaran lainnya yang sangat dibutuhkan dalam PBM. Namun, paling tidak kedua hal itu mampu mengurangi kegundahan para guru dalam melakukan transformasi ilmu kepada peserta didiknya.
Dalam bahasa Dr. Arif Rahman dikatakan bahwa, hendaklah mendidik itu tidak saja berorientasi kepada ilmu (transfer of knowledge) tapi juga berorientasi pada “nilai” (transfer of value). Transfer of value sangat identik dengan nilai-nilai pendidikan seorang ibu di rumah. Bagaimana seorang ibu mendidik di rumah? Dalam tulisan di web tersebut telah dijelaskan begitu keikhlasan seorang ibu dalam “mendidik” anaknya sampai ia mengenal siapa dirinya (jatidirinya). Ia menceritakan bagaimana kondisi sang ibu ketika sedang berbadan dua. Kemana-mana dibawa, dan tak pernah mengeluh, bahkan bangga: “Aku sedang berbadan dua lho?, kira-kira seperti itu pengakuannya terhadap teman-teman tetangganya. Sebuah kebanggaan, padahal secara lahiriah sungguh merepotkan, “memberatkan”, dan beberapa kalangan wanita merasa “kecantikannya” justru pudar, apalagi pasca persalinan. Ketika sang anak belum berusia lebih dari dua tahun, maka sang ibu pun harus rela dan ikhlas menyusui, walau kadang menyebalkan karena digigit. Tapi, dia tidak pernah marah, kalau marah hanya sebentar dan sayang lagi, dan begitu seterusnya.
Ada sebuah lagu anak-anak yang tergolong klasik, “kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak ingin kembali, seperti surya menyinari dunia” kurang lebih seperti itulah lagu dulu yang sekarang sudah jarang terdengar. Lagu ini mengisyaratkan bahwa begitu kasih sayang ibu tak terhingga kepada anaknya. Kasih sayang itu digambarkan dalam lagu itu sebagaimana matahari menyinari dunia. Cobalah perhatikan kasih sayang Allah yang satu ini kepada kita. Setiap hari Dia menyinari bumi agar kita bisa beraktivitas pada siang hari. Pada malam hari sinarnya redup dan kita pun bisa istirahat untuk persiapan kerja besok harinya. Bayangkan jika matahari tidak pernah berpindah, mungkin kita gak pernah tidur ya..?. Pemberian nikmat Allah itu, ternyata Dia tidak pernah meminta kita untuk sesuatu yang tdak bisa kita lakukan. Dia Cuma minta agar menjadi manusia yang “baik”.
Kasih sayang Allah kepada hambanya, boleh dikatakan mirip tapi tak sama, dengan kasih sayang seorang ibu dengan anaknya, walaupun beberapa kasus, banyak anak yang “kurang ajar”. Bagaimana ia mengandung kita selama lebih dari sembilan bulan, ketika lahir harus disusui dan membersihakan popoknya, ketika sekolah harus disiapkan bajunya sampai ia dinikahkan, barulah tugas orang tua rampung, karena tanggung jawab berpindah ke suaminya. Namun, kadang setelah berkeluarga, masalah belum selesai. Ia belum mampu menghidupi keluarganya. Akhirnya, orang tua turun tangan lagi agar “buah hatinya” bisa hidup bahagia sebagaimana layaknya orang.
Pemandangan di atas, sangat jelas, bagamana kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Sungguh tiada taranya. Ia tak dapat dibayar dengan apa pun. Maka, sadar dan minta ampunlah bagi anda-anada yang senantiasa menyakiti kedua orang tuanya selama ini, karena ridho Allah terletak kepada ridhonya kedua orang tua kita, khususnya ibu.
Itulah kasih sayang ibu, yang dirindukan semua anak-anak, termasuk anak-anak di sekolah. Mereka telah terbiasa dididik dengan kasih sayang dan cinta. Sejak kecil, mereka selalu diajari untuk memperbaiki kesalahannya jika terjadi kekeliruan dalam bertindak. Mereka dibesarkan agar menjadi orang yang memiliki karakter dan bermental kuat. Mereka dibiarkan mengembangkan potensi minat dan bakatnya. Sebuah kekeliruan jika hal itu dikukan sebaliknya di sekolah
Strategi pengajaran guru pun seharusnya demikian. Paradigma transfer of knowledge sudah saatnya bergeser, atau paling tidak diimbangi dengan transfer of value. Aplikasi kedua hal itu diharapkan mampu memberikan solusi pendidikan kita yang belum mampu “menciptakan” manusia seutuhnya sebagaimana yang dimaui bersama sejak dibangunnya Republik ini.
Penulis adalah Dosen Sejarah FKIP Unlam Banjarmasin, tinggal di Banjarbaru. Email:fikri_025@yahoo.co.id. webblog.www.syaharuddin.wordpress.com
Syaharuddin
Di suatu ketika saya berbincang dengan seorang guru PBS (Pembina Bidang Studi) IPS di Banjarbaru, saat pelatihan pedagogik dilaksanakan beberapa bulan lalu. Dengan semangat ia bercerita, bahwa seakan sangat dikejar waktu, bahkan hampir kehabisan waktu dan menyita pikiran dan tentu juga dana yang tidak sedikit untuk menyiapkan para siswanya menghadapi ujian nasional (UNAS).
Berbagai langkah pun dilakukan. Mulai dari penambahan jam pelajaran, melaksanakan dan mengikuti try out, membebani siswa dengan berbagai tugas dan “PR”. Kucuran dana pun mengalir dari mana-mana, dari pemerintah pusat dan sekolah sendiri. Semua itu dilakukan dengan tujuan agar para siswanya berhasil “LULUS UJIAN”. Usaha dan upaya yang dilakukan oleh para pegiat pendidikan ini, adalah sebuah realitas empiris yang telah berlangsung sejak pencanangan nilai standar minimal kelulusan pada semua tingkat pendidikan di negeri ini.
Seorang teman pernah bercerita, tentang seorang anak SMA pindahan dari salah satu sekolah di Eropa. Prestasinya di sekolah sebelumnya tidak begitu buruk, ia pun mampu bersaing dengan teman-teman sekelasnya. Saat di Indonesia, prestasinya justru anjlok. Ketika ditanya, jawabannya singkat dan penting dimaknai, “Aku kewalahan menghadapi begitu banyaknya materi pelajaran di sekolah” katanya.
Jika mencermati uraian tersebut, ternyata salah satu kegagalan siswa di sekolah adalah soal banyaknya materi atau mata pelajaran. Persoalan ini tentu memerlukan pemikiran tersendiri oleh para pakar pendidikan kita. Bagaimana misalnya memadatkan materi IPS dan IPA namun tetap tidak menghilangkan esensinya, mengefisiensikan pelajaran bahasa dan matematika, begitu pula mata pelajaran lainnya.
Kenyataan tersebut, tampaknya menjadi permasalahan tersendiri ketika seorang anak harus menghadapi ujian. Bagaimana menguasai materi pelajaran yang begitu banyak? Belum lagi rasa malu (mental, psikologis) yang harus ditanggung oleh siswa jika tidak lulus, berapa lagi biaya sekokah yang harus dikeluarkan, dan sebagainya. Akhirnya, berbagai cara pun ditempuh. Bahkan cara-cara yang tidak wajar sekalipun. Sebutlah misalnya terjadinya proses “konspirasi” dan negosiasi yang bertujuan melapangkan jalan bagi siswanya. Konspirasi dan negosiasi ini dijalankan atas nama prestise sekolah dan pribadi siswa. Ini adalah sebuah persoalan pendidikan yang tentu memerlukan solusi terbaik oleh kita semua. Diperlukan komitmen bersama di antara pegiat pendidikan, sejak tingkat pusat hingga daerah.
Persoalan selanjutnya adalah, sesungguhnya pendidikan itu bukan sekedar lulus ujian (UNAS) an sich, akan tetapi sebuah proses untuk “memanusiakan manusia” dan ini yang berat, karena yang diutamakan kepada guru adalah”mendidik” bukan “mengajar”. Mungkin karena mengejar prestasi kelulusan (nilai) akhirnya mengajar lebih dominan ketimbang mendidik. Out put pendidikan seperti ini hanya akan melahirkan robot-robot yang memiliki otak namun tak memiliki nurani. Nyatanya, para pejabat negara dan pengusaha yang notabene adalah orang-orang yang pernah duduk di bangku sekolah, justru “merampok” negaranya sendiri, bahkan seakan ingin “menggadaikannya”, sehingga hampir “roboh” karenanya. Realitas itu sebuah memperlihatkan bahwa nilai-nilai moralitas dan patriotis serta nasionalisme sudah tak menjadi sesuatu yang sakral lagi oleh sebagian besar masyarakat kita. Padahal, pendidikan seharusnya membuat orang menjadi lebih bijak, menjadikan manusia lebih terhormat, mencetak orang-orang yang senantiasa menghormati kepada siapa saja yang telah berjasa membesarkannya hingga ia menjadi “orang”, sukses.
Di sisi lain, persaingan global yang semakin gencar memerlukan kesiapan peserta didik untuk menghadapinya, yang didalamnya melibatkan berbagai elemen, seperti kurikulum pendidikan yang kompetitif, profesionalisme guru dan sistem manajerial kepala sekolah yang handal. Elemen-elemen ini harus menyatu dalam sebuah pemikiran ke arah kemajuan pendidikan, yang dijalankan bersama untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal dan unggul. Ini kiranya menjadi pilihan jika persaingan global ingin diikuti, dan mau tidak mau, suka tidak suka sudah menjadi sebuah keharusan dan sebagai sebuah tuntutan era globalisasi jika kita tidak ingin tertinggal dengan daerah dan bangsa lain.
Sebuah contoh konkret, bidang pelajaran bahasa, terutama bahasa asing (Inggris). Kita semua mungkin telah mengalami dan merasakan bahwa sejak Sekolah Dasar (SD), bahkan sejak berada di Taman Kanak-kanak (TK) hingga perguruan tinggi telah diajarkan materi bahasa Inggris kepada peserta didik. Hasilnya? Alhamdulillah anak yang telah menyelesaikan pendidikan TK sampi ke PT tidak mampu “berbicara” dalm bahasa Inggris, kecuali sedikit kosa kota yang belum mumpuni untuk diajak berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Hal sama juga dialami oleh penulis sendiri. Kenyataan ini, menyisakan sebuah pertanyaan kritik kepada pegiat pengajaran bahasa Inggris pada semua tingkat pendidikan, ada apa dengan pengajaran bahasa Inggris kita?
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyudutkan salah satu pihak, tetapi kritik membangun ini berlaku untuk “semua”. Mari berfikir bersama, mengkaji lebih serius persoalan ini, khususnya para pegiat pendidikan dan pengajaran bahasa Inggris di pusat maupun di daerah. Persaingan global yang semakin kuat dan menggurita, diperlukan kompetensi agar siswa dapat menghadapi persiangan global. Dan, kemampuan berkomunikasi (khususnya berbahasa Inggris) merupakan salah satu komponen penting untuk menjawab persoalan globalisasi.
Hal terpenting dari uraian ini, adalah ingin menegaskan bahwa manusia (peserta didik) bukanlah robot, tapi dia adalah makluk sosial yang mengharuskan dia melakukan komunikasi dan berkompetisi dengan manusia lainnya. Karena itu, tidaklah cukup pendidikan hanya berorientasi kepada kecerdasan intelektual (kognitif) atau nilai UNAS dalam menghadapi persaingan global. Peran dan fungsi guru pun akhirnya mengalami paradigma baru, yakni tidak lagi sebagai “penyuap” pengetahun tapi lebih sebagai mediator dan motivator, yang senantiasa memberikan tantangan kepada siswanya agar lebih kreatif dan produktif. Untuk menjadi seorang motivator dan mediator tentu perlu bekal yang cukup, termasuk pemahaman terhadap perkembangan teknologi informasi dan komputer (TIK).
Dengan berbagai bekal yang diberikan kepada peserta didik, harapannya adalah terciptanya manusia-manusia yang handal, unggul, beriptek dan berimtaq (sebuah konsep lama yang masih sangat relevan saat ini), dan mampu berkompetisi secara “sehat”.
Penulis adalah Tenaga Pengajar PSP Sejarah FKIP Unlam Banjarmasin, tinggal di Banjarbaru, email: fikri_025@yahoo.co.id, webblog:www.syaharuddin.wordpress.com
Alhamdulillah, tepat tgl 4 Desember 2008 pukul 17.45, saya dinyatakan LULUS dengan Gelar M.A. Begitu lama harapan itu ingin kuraih, namun berkat kesabaran, kesungguhan, tekad, kensentrasi, dan tentu yang paling penting atas perkenanNya.
Terima kasih kepada semua yg telah membantu hingga saya jadi termotivasi, terbangun –dari tidur–, terinspirasi, dan pekerjaan yang kadang “membosankan” tapi kadang lebih banyak “menghibur” ini.
Kepada teman-teman S2 Sejarah 2005. Ayo “bangun” pekerjaan baru siap menunggu. Jangan terlalu banyak pertimbangan. Tulis, tulis, dan tulis. Tidak kata lain. Lalu ujian. Perbaikan nomor dua. Yakin selesai. Selamat bekerja. Kudoakan dalam setiap menghadap kepada Tuhanku agar kalian tetap semangat mengikuti jejak teman-teman lain.Semoga, amin.


Komentar Terakhir