Syaharuddin*

Ramadhan telah berlalu dan impian menggapai derajat taqwa pun menjadi harapan bagi semua umat Islam di seluruh dunia, namun apakah kita telah berhasil menggapainya atau belum?  Mungkin kita dapat menilainya sendiri dengan memperhatikan beberapa indikasi yang telah dipaparkan oleh para ulama.

Judul opini di atas, kata ibadah ditulis dalam tanda petik, karena sebagian masyarakat kita ada yang mengartikan begitu sempit tentang apa itu sebenarnya ibadah. Sebagai contoh, ada sebuah daerah di banua kita ini yang konon katanya lembaga kursus Bahasa Inggris dan komputer tidak begitu digemari oleh masyarakatnya. Padahal, kalau kita timbang-timbang ternyata kedua hal tersebut sangat berpengaruh terhadap peningkatan SDM pada sebuah bangsa. Ya bahasa asing dan penguasaan teknologi tampaknya sudah merupakan sebuah keharusan yang mutlak untuk dipelajari dan diamalkan untuk menjalankan tugas-tugas kekhalifahan di muka bumi.

Apa yang penulis uraikan di atas sesungguhnya ingin mengatakan bahwa masih ada sebagian masyarakat kita yang memahami ibadah dalam arti sempit, yakni hablumminannallah an sich, hubungan kepada Allah secara langsung seperti sholat lima waktu, puasa Ramdhan, berhaji, berzakat, bersedekah, membangun mesjid dan langgar, mengadakan dan mengikuti majlis ta’lim dan setrerusnya. Sementara itu, aktivitas yang berupa pembangunan lembaga pendidikan (Islam), menolong sesama yang sedang kesusahan, membangun taman bacaan (perpustakaan) yang refresentatif, memberikan pelayanan prima kepada publik- –bagi yang bertugas melayani publik, seperti petugas yang membuat KTP dan KK di kelurahan/kecamatan, petugas POS, PDAM, PLN dan sebagainya —, menuntut ilmu (dunia) –seperti bahasa Inggris, komputer, dan sebagainya.
 

Mungkin, saatnya kita harus mengubah paradigma lama tentang ibadah itu. Yakni tidak hanya hubungan kepada Allah SWT semata, akan tetapi juga hubungan dengan sesama manusia, dan kata para ulama, jika kita melakukan sesuatu dengan niat ikhlas karena Allah  dan bermanfaat bagi manusia lain maka itu pun sudah termasuk dalam kategori ibadah. Dengan demikian seseorang yang sedang tugas jaga malam, antar jemput anak ke sekolah, membantu tugas-tugas istri atau sebaliknya, menuntut ilmu –ilmu apa saja yang penting berguna bagi kemanusiaan—maka jangan dikira itu tidak termasuk ibadah. Kalau demikian adanya, maka daerah yang saya contohkan di atas tadi jelas telah salah memahami sebuah ibadah dan ilmu itu.

Syawal = Bulan Peningkatan
Kembali pada persoalan judul di atas, maka sudah menjadi sebuah pemandangan pada setiap tahunnya, ketika Ramadhan usai, maka usai pulalah aktivitas yang biasa mengiringinya. Sebagai contoh, kalau pada bulan Ramadhan kebanyakan kita memenuhi panggilan-panggilan azan baik di langgar maupun di masjid, kemudian menghadiri majlis-majlis ta’lim, memperbanyak sedekah, memperpanjang doa dan zikir, memperbanyak sholat sunat dan  membaca Al Quran, dan sebagainya. Namun, pasca ramadhan pemandangan itu seakan-akan hilang dari pandangan. Muncul sebuah pertanyaan, apakah benar seperti itu gambaran yang diharapkan? Apakah kita juga sudah meraih tujuan puasa, yaitu menggapai derajat taqwa? Tentu saja tidak. Ibadah yang kita latih selama satu bulan itu yang pelatihnya langsung dari Allah sendiri itu sebenarnya aplikasinya pada 11 bulan ke depan. Ibarat seseorang atau sekelompok orang mengikuti pelatihan yang berlangsung selama satu bulan maka, diharapkan para peserta dapat memperaktikan hasil pelatihan tersebut yang telah dilaksanakan selama sebulan itu.   
Ada yang lebih ironis lagi, kadang dalam diskusi dengan sesama teman kantor, tetangga atau di komunitas apa saja, kadang muncul kata-kata seperti “eh jangan ngomongin orang, kita sedang ibadah puasa”, atau “jangan berdusta sebab kita sedang shaum”, atau “kita jangan korupsi dulu karena ini bulan Ramadhan”. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah di luar bulan Ramadhan atau menjalani 11 bulan ke depan kita boleh mengghibah, berdusta dan korupsi? Ini memang sebuah ironis, tapi itulah kenyataannya.

Salah satu indikasi seseorang telah menggapai derajat taqwa, yakni ia istiqomah menjalankan ibadah-ibadah saat bulan Ramadhan pada 11 bulan ke depan sehingga ia bertemu lagi dengan Ramadhan berikutnya. Hal ini sama persis dengan filosofi sholat. Sholat wajib yang lima waktu itu sebenarnya tidak hanya wajib pada lima waktu yang telah ditentutakan akan tetapi ada “sembilan” waktu. Namun jangan salah sangka dulu, saya tidak mengatakan bahwa sholat wajib itu ada sembilan waktu, tapi tetap saja lima waktu, tetapi, kewajiban sholat Isya, Subuh, Lduhur, Ashar, dan Maghrib (ISLAM) maka di antaranya itu –maksudnya antara Maghrib ke Isya, Isya ke Subuh, Subuh ke Lduhur, Lduhur ke Ashar dan seterusnya itu—kita tetap “wajib” melaksanakan sesuatu yang wajib pula yakni dengan mengisi di antaranya itu dengan berbagai perbuatan baik (ma’ruf) dan sebaliknya menjauhi perbuatan buruk (munkar).

Di akhir tulisan ini saya ingin menegaskan beberapa hal, pertama mari merubah paradigma lama tentang pengertian ibadah. Ibadah jangan lagi diartikan hanya sebatas ibadah sholat, puasa, zakat dan berhaji akan tetapi semua aktivitas kita yang bermanfaat bagi orang lain dan dilaksanakan dengan ikhlas karena mencari ridho Allah insya Allah itu pun sudah termasuk ibadah. Persoalan berapa pahala yang kita dapatkan? Masalah itu serahkan sajalah kepada si pemberi pahala itu sendiri. Yakinlah bahwa Allah itu maha adil dan bijaksana.      Kedua, dengan merubah paradigma lama itu, maka akan berpengaruh pula terhadap pemahaman kita tentang ilmu. Dengan demikian maka apakah masih pantas kita pertentangkan antara kursus bahasa Inggris dengan bahasa Arab? Begitu pula terhadap penguasaan Iptek lainnya, seperti ilmu komputer, ilmu pertambangan, ilmu kimia, ilmu budaya dan sebagainya. Ketiga, Ramadhan yang telah kita lalui hendaknya dijadikan bulan latihan yang harus diaplikasikan pada 11 bulan berikut. Kemudian, kesucian diri (fitrah) yang telah kita peroleh jangan lagi kita nodai pada pascaramadhan, sehingga dengan demikian impian kita menggapai derajat taqwa sebagaimana telah disinggung di awal tulisan ini insya Allah dapat kita gapai bersama, amin.

Penulis adalah Tenaga Pengajar FKIP Unlam Banjarmasin tinggal di Banjarbaru, email: fikri_025@yahoo.co.id, website: www.syaharuddin.wordpress.com, dan anggota KP EWA’MCo.

About these ads