You are currently browsing the monthly archive for Agustus 2007.
Dipesh Chakrabarty
Dipesh melihat gejala bahwa “subaltern studies” melalui proyek postkolonial India mulai bangun dari “tidurnya yang panjang” dan ada gejala India memperlihatkan tanda-tanda yang mendukung agar mereka dapat menampilkan dirinya sendiri. Dipesh sangat berharap agar orang-orang India berbicara tentang masa lalunya yang mana sebelumnya tidak diungkap oleh para sejarawan dan para mahasiswa India istri dalam penelitian yang mereka lakukan.
Oleh Syaharuddin*
Pengantar
Di Indonesia terdapat berbagai organisasi sosial dan politik baik yang bergerak di bidang kemasyarakatan maupun dakwah (agama). Di antara organisasi dakwah tersebut yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Hizbut Tahrir (HT), syariah, dan khilafah tidaklah dapat dipisahkan. Penegakan syariah dan khilafah adalah adalah visi dan misi perjuangan dakwah HT. Pasalnya, pasca keruntuhan Khilafah Ustmaniyah tahun 1924, problem terbesar umat Islam adalah tidak diterapkannya syariah dalam tatanan kehidupan masyarakat, yang sejatinya diwujudkan dalam wadah institusi khilafah Islamiyah. Di samping itu, yang lebih penting, penegakan syariah dan khilafah adalah kewajiban dari Allah dan Rasul-Nya yang telah dibebankan kepada seluruh kaum Muslimin. (al-Wa’ie, Edisi Maret 2005:1).
Oleh Syaharuddin*
Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) telah dibahas dan menuai banyak kritik dari berbagai pihak, termasuk sebagian dari umat Islam sendiri. Bahkan intervensi asing pun tidak mau ketinggalan. Balkan Kaplale salah seoarang yang berjuang merumuskan RUU APP ini mengaku telah didatangi oleh beberapa asing yang mengatasnamakan perwakilan Uni Eropa dan Amerika yang intinya, mereka khawatir RUU APP ini disyahkan menjadi undang-undang (UU). Hal ini mengindikasikan telah terjadi intervensi asing. RUU APP jelas mereka tolak sebab RUU tersebut akan membentengi bangsa Indonesia dari penghancuran moral lewat industri gaya hidup destruktif yang mereka produksi dengan kedok Hak Asasi Manusia (HAM) dan kebebasan berekspresi (Republika, Jumat 17/2/2006).
Syaharuddin*
Banyak pengkajian yang telah dilakukan tentang mengapa umat Islam terbelakang khususnya bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan Informasi Teknologi (IT). Padahal kalau dipandang secara sepintas kita (umat Islam) adalah umat terbesar termasuk juga sumber daya alamnya (SDA). Kemudian Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, sarat dengan nilai-nilai universal dalam petunjuk hidupnya. Namun, mengapa kita menjadi umat yang terbelakang, mesti ada udang di balik batu’?
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Komentar Terakhir